MediaKeberagaman.com, Solo. Sebanyak 2.000 umat Hindu se-Surakarta berkumpul dan memadati lapangan Kota Barat guna memeriahkan gelaran Festival Seni Sakral Hindu yang menjadi event perdana di Kota Solo. Festival Seni Sakral Hindu yang diikuti 10 kontingen ini mengangkat ikon Dewi Saraswati, sebagai lambang ilmu pengetahuan.
Alasan utama panitia mengangkat Dewi Saraswati sebagai fokus utama pawai, karena masyarakat saat ini mulai enggan mempelajari warisan ilmu budaya adiluhung yang dimiliki bangsa Indonesia.
“Lambang Dewi Saraswati sengaja kami angkat sebagai perlambang pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan mengenai kebudayaan, yang sarat dengan nilai-nilai luhur bangsa yang saat ini mulai ditinggalkan,” jelas Ketua Panitia Festival Seni Sakral Hindu sekaligus Ketua Perhimpunan Hindu Dharma Indonesia, Sunarto kepada Wartawan, Selasa (15/6).
Festival kali ini dimeriahkan dengan pementasan Wayang Orang Sriwedari yang mengankat lakon Ramayana dan Mahabarata sebagai perlambang cerita tentang sebuah ajaran kebenaran dan ketidakadilan.
Sunarto menambahkan, salah satu tujuan lain dari kegiatan itu adalah sebagai ajang sosialisai dan mengubah cara pandang masyarakat yang terlanjur mengangap segala sesuatu yang berhubungan dengan agama Hindu selalu identik dengan Bali. Hal ini tidak dapat dibenarkan. Agama Hindu bukan milik warga Bali, melainkan milik warga Indonesia yang beragama Hindu.
Keberadaan festival seni Sakral Hindu ini tidak serta merta menampilkan semua upacara agama Hindu. Menurutnya, hanya beberapa upacara keagamaan saja yang akan digelar dalam rangkaian festival kali ini.
“Dengan adanya festival ini, kami berharap masyarakat dapat mengapresiasi keberadaan seni-seni sakral agama Hindu dan dapat mempererat jalinan kerukunan umat beragama, antar umat Hindu itu sendiri sekaligus mempererat kerukunan umat dengan pemerintah,” terangnya. (ina/sumber: Harian Joglosemar edisi Rabu, 16 Juni 2010 hal 4)