MediaKeberagaman.com, Solo. Salah satu santri Ponpes Al Muayyad Laweyan bersedia diajak turut serta ke Afghanistan sebagai anggota Jemaah Islamiyah (JI). Bahkan, Perdana S (15) yang tampak pemalu tersebut menjadi sangat bersemangat untuk pergi ke beberapa medan pertempuran. Padahal yang mengajaknya adalah Mohammad Nasir bin Abas, mantan Head of Mantiqi III JI.
Tak hanya itu, Perdana yang sebelumnya sama sekali belum mengenal Nasir langsung mengiyakan semua permintaan dan ajakannya. Padahal usia Nasir dan Perdana terpaut 26 tahun. Rentang usia yang sangat jauh, namun Nasir berhasil meyakinkan bocah tersebut untuk turut berjihad dengan cara kekerasan (terorisme). Bahkan, untuk mendanai kegiatan terorisme pun Perdana tidak menolak.
Namun, pada akhirnya Perdana tidak jadi berangkat, karena ajakan tersebut dilontarkan oleh Nasir saat memberikan simulasi perekrutan anggota JI. Dan nampak semua santri Ponpes Al Muayyad langsung riuh dengan tawa mereka. Rupanya, jawaban yang selalu diberikan oleh Perdana memicu tawa santriwan dan santriwati yang menyaksikan. Bagaimana mungkin seseorang diajak pergi ke suatu tempat tanpa ada pertanyaan jelas dari yang diajak.
Namun demikian, Nasir yang juga pernah menjabat sebagai instruktur akademi pelatihan senjata bagi mujahidin Afghanistan tersebut menjelaskan, akan sangat sulit menolak ajakan sebagaimana yang telah ia praktikkan. Karena setiap ajakan selalu menyentuh hati seseorang yang diajak. Dan pada akhirnya, orang tersebut akan mengikuti apa kehendaknya.
“Mengajak menjadi anggota JI itu tidak harus dengan dalil ayat atau hadist. Tetapi bisa juga dengan cara mengajak bicara dan menyentuh hatinya. Maka saya yakin semua santri yang di sini juga akan mengikut ajakan sebagaimana Perdana tadi. Maka pemuda harus kritis, jangan hanya ya, saja,” kata Nasir saat melakukan simulasi perekrutan JI di Ponpes Al Muayyad, Laweyan, Kamis (29/4). Nasir sendiri telah keluar dari JI semenjak pertengahan tahun 2003 silam.
Menurutnya, pemuda adalah salah satu usia yang mudah untuk dipengaruhi agar masuk ke JI, dan ada beberapa faktor yang menyebabkannya. Di antaranya adalah faktor pendidikan yang dienyam seseorang. Maka dari sekitar 500 teroris yang telah ditangkap di Indonesia, sebanyak 80 persennya adalah pemuda dan belum menikah. (Hanung Soekendro)
Sumber: Joglosemar