Analisa Temuan : Perbandingan Tanggerang dan Solo (Anas Saidi)

Categorized Under: Artikel No Commented

Anas SaidiKota Tangerang, nampaknya merupakan prototipe kota menyangga wilayah mega-metropolis yang sedang mengalami loncatan perubahan. Gerak ekonominya yang hiperaktif, urbanisasi berlebih yang tidak seluruhnya diinginkan, sebagai buah pergeseran ekonomi agraris menuju zona ekonomi industrial yang sangat massif, telah menggiring kota ini menahan beban perubahan diluar kapasitasnya. Seperti umumnya kota yang sedang berubah, proses akulturalisasi masih dalam proses mencari bentuk yang sedang menjadi (becoming). Tiadanya tuan rumah budaya, yang mampu menjadi manajer perubahan dalam menjinakkan gelombang urbanisasi dengan segala dampak ikutannya, merupakan tantangan terbesar kota ini.

Kuatnya ingatan sejarah yang homogen dan minimnya imajinasi dalam menatap realitas baru yang heterogen, membuat kota ini sangat rentan terhadap perubahan apa saja yang mengancam tatanan lama. Sebaliknya, setiap tawaran baru yang dipahami akan menjanjikan stabilisasi dan membangunkan romantisasi sejarah akan mudah diterima. Dalam kesadaran kolektif seperti ini, tidak mengherankan jika lahirnya Perda Syari’ah, meskipun dalam kalkulasi politik tidak mencukupi untuk memformalkan gagasan itu, tetapi secara kultural mudah menemukan afinitasnya.

Kota Solo, ditilik dari perkembangan kota di Jawa Tengah, barangkali Solo, merupakan kota yang paling hiperaktif dalam menyambut perubahan. Semangatnya yang berlebihan dalam menyongsong setiap perubahan yang ditawarkan, membuat Solo hampir tidak menyisakan wajah kekuatan tradisi yang mampu dijadikan bantal kebudayaan. Sisi positifnya, lahan pluralitas telah terbentang luas melebihi dari arah yang sebaliknya. Dengan terbukanya pintu budaya yang disertai ingin menangkap apa saja yang menawarkan perubahan, membuat Solo benar-benar menjadi surga-duniawi bagi para pemadat hidonis tingkat atas sampai kelas kaki-lima “molimo”( madon, main, madat, maling dan minum).

Wajah kota yang sangat sekuler, rupanya, telah mengundang kelompok andronalin kaum fundamentalis (laskar) untuk menumpahkan semangat bawaannya, yang cenderung memahami jihat (amar ma’ruf) serba hitam-putih, dangkal, dengan mengedepankan intrumen kekerasaan. Dengan tidak adanya kelompok dominan yang menjadi tuan rumah budaya, baik secara kultural-keagamaan, maupun secara politik, membuat setiap upaya determinasi akan mengundang risiko. Sementara secara ekonomi, khususnya jika dilihat pada arah perkembangan yang ada, Solo sesungguhnya sangat rentan atas hadirnya deprivasi-relatif untuk menjadi absolut. Rencana pembangunan beberapa apartemen-mewah dan mega-mall yang agak membabi-buta yang disediakan bagi pekerja asing Exxon Oil di Cepu, misalnya, besar kemungkinan hanya akan menempatkan warga lokal sebagai penonton daripada sebagai pelaku. Tentu saja semuanya itu akan semakin berpotensi menyulut pelatuk konflik berbasis kecemburuan sosial. Bahkan dikhawatirkan akan menaikan semangat kaum radikal dalam mencari pembenaran publik, bahwa modernisasi yang ada tidak menjanjikan kemakmuran bagi penduduk lokal.

Analisa temuan oleh Anas Saidi versi PDF secara lengkap [Download]

Berita Lainnya:

Dapatkan Berita di Email anda! Berlangganan berita kami dengan memasukkan email anda

Masukkan email anda:

Leave a Reply