MediaKeberagaman, Com. Solo. Kelurahan Joyosuran, selalu diindentikan dengan cap hitam, seperti daerah konflik, basis preman dan kandang laskar. Puncaknya pertengahan Maret 2008 lalu, terjadi pertengkaran hebat antar kelompok masyarakat. Populer apa yang dinamakan Kusumodilagan berdarah, dengan tewasnya salah satu pemuda Joyosuran ”Kipli”. Sejak itulah wilayah Joyosuran dicekam rasa balas dendam yang berkepanjangan. Dan kasus Kipli kedua ”seakan-akan” tinggal menunggu momentum.
Kisah kelam itu telah menghapus semua kebaikan, keberhasilan warga Joyosuran, dan tertutupnya pintu perdamaian. ”Konflik yang terjadi di Joyosuran seperti ombak tak pernah berhenti dan turun ke anak cucu. Untuk menghilangkan stigma negatif, menuju masyarakat yang damai dan toleran, mulai saat ini kita harus angkat cerita kebaikan dan keberhasilan warga Joyusuran ke permukaan,” papar Drs. Ardmoyosudarsono, tokoh masyarakat Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, pada Seminar Perdamaian dan Konflik di Joyosuran, yang diselenggarakan Forum Kemanusiaan dan Persaudaraan Indonesia (FKPI), SPEK-HAM dan Commitemnt Solo, di Hotel Indah Palace, Jumat (28/8).
Menurut Pak Moyo biasa dipanggil, pada era 80-an kaum muda Joyosuran terkenal kompak, guyub rukun. Tokoh masyarakatnya bisa ”ngesuhi” membimbing. Hasilnya, kelurahan Joyosuran menjadi kelurahan yang paling aman di Kota Solo. Selain itu, di Joyosuran ada salah satu keluarga dermawan keturunan Arab, setiap tahun ia membagi-bagikan shodakohnya untuk keluarga miskin dan anak putus sekolah. Bukan hanya itu, ia juga peduli kepada sesama tanpa pandang sara.
”Pada awal mendirikan usaha, saya kekurangan modal, kemudian orang Arab (sebut saja pak Ahmad) yang juga tetangga saya, datang menawari pinjaman tanpa agunan sebesar Rp 40 juta, ya kalau sekarang senilai Rp 100 juta. Atas uluran tangan Pak Ahmad itu, hingga kini usaha saya yang bergerak di bidang woods supplier terus berkembang, padahal saya bukan muslim,” kenang Moyo berkaca-kaca.
Sementara Ade Irman Susanto, SPd yang membawakan makalah ”Pemetaan Resiko Konflik Kelurahan Joyosuran Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta” menjelaskan bahwa, bukan hal yang mustahil hidup tentram dan damai dapat dirasakan. Karena masyarakat Joyosuran memiliki kapasitas diantaranya adalah ;
Pertama, peranan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan lokal RT/RW selalu dianut oleh warga melalui saran dan contoh prilaku budaya jawa tepo seliro, menghormati, dll. Kedua, hampir disetiap RT/RW ada rembug warga dan paguyuban, yang memiliki peranan potensial dalam menyelesaikan persoalan kemasyarakatan. Sedangkan paguyuban memiliki tujuan untuk menguyubkan antar warga dan mengharmoniskan hubungan masyarakat.
Ketiga, dimasyarakat sudah ada Kelompok Usaha Bersama (KUBE), Posyandu dan PKK yang semuanya aktif dalam berorganisasi. Selain itu karang taruna juga dapat diandalkan dalam mengadakan acara-acara hari-hari besar, sebagai salah satu ajang untuk membangun komunikasi.
Saran Ade, untuk mengembangkan perdamaian di Joyosuran diperlukan suatu forum komunikasi antar umat beragama dibawah naungan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK)
Dalam acara itu tampak hadir diantaranya dari kelompok Sunan Bonang, perwakilan LPMK, tokoh perempuan, tokoh masyarakat dan erwakilan karang taruna. *** (cecep-commitment)