Bale Sigala-gala, potret radikalisme. Kurawa kembali mencari gara-gara. Kali ini untuk melenyapkan Pandawa, mereka membangun sebuah rumah bom, Bale Sigala-gala. Rumah yang dibuat dari bahan peledak dan disiapkan Sangkuni dalam waktu enam bulan, memang ditujukan untuk menghabisi kakak beradik Pandawa. Tak lama setelah Bale Sigala-gala selesai dibangun, Pandawa pun diundang ke sana. Dan, seperti dapat diduga, saat Pandawa terlena dalam pesta yang digelar di bale itu, bom pun meledak. Kisah tersebut salah satu petikan pertunjukan wayang suket dengan lakon Bale Sigala-gala di Pasar Windu Jenar, Sabtu (1/8) malam.
Sebuah pertunjukan satir mengenai radikalisme yang berbuntut pada kehancuran.
Dengan gaya khasnya yang kocak dan penuh sindiran, sang dalang, Slamet Gundono sukses memukau puluhan penonton yang hadir. Celetukan spontan yang kocak, muncul hampir dalam setiap adegan. Tak pelak, gelak tawa penonton pun terdengar nyaris tiada henti. Suasana makin hangat saat salah satu penonton diundang maju, berpura-pura menjadi Werkudara. ”Ayo kita cari Werkudara,” ajak sang wayang pada pemeran Nagagini, sebelum menarik Mudi, seorang penonton asal Sukoharjo ke arena pementasan.
Pertunjukan interaktif ini, seolah meniadakan jarak antara para pemain dan penonton. Alhasil, penonton pun kian larut dalam lakon wayang yang tengah dimainkan. Hingga klimaks cerita, saat ”bom” yang disiapkan Kurawa meledak dan meluluh lantakkan bale sigala-gala, para penonton pun ikut berteriak histeris. Pasalnya, di saat bersamaan ”bom” yang disiapkan dalang dalam pertunjukan ini ikut-ikutan di ledakkan. Bom yang berwujud buah semangka segar itu dilemparkan ke udara, dan langsung pecah saat menghujam bumi, sebagian daging buahnya pun langsung terlempar ke arah penonton.
Sikap radikal
Pada perbincangan dengan Espos di akhir pertunjukan, Slamet Gundono mengaku kisah Bale Sigala-gala bukan menceritakan pemboman JW Marriot dan Ritz Carlton. ”Bom yang muncul tadi hanya bagian kecil. Lakon kali ini sesungguhnya berkisah tentang sikap radikal terhadap satu ajaran yang dapat muncul di mana-mana,” ujar Slamet.
Radikalisme, lanjut dia, bukan monopoli satu kelompok saja. Sikap radikal bisa saja ditunjukkan oleh kelompok agama manapun, ras apapun, di negara manapun, bahkan di masa Hastinapura.
”Sekarang situasi makin memprihatinkan, sikap radikal sudah makin mengarah pada perilaku destruktif. Ini harus dihentikan, kita semua harus membuka ruang dialog dan memahami perbedaan yang ada,” papar Slamet menyampaikan pesan moral dalam lakon Bale Sigala-gala. – Oleh: Esmasari Widyaningtyas (pic:sadrah)
Sumber: Solopos