MediaKeberagaman.Com.-Solo. Negara (aparat kemanan-red) jangan melakukan pembiaran terhadap aksi, sweeping dan teror yang dilakukan oleh masyarakat sipil kepada masyarakat sipil lainnya, tetapi justru sebaliknya harus menjadi garda depan perdamaian.
Demikian salah satu poin penting dalam Focus Groups Discussion (FGD), dengan thema ”Mencari solusi bersama untuk mewujudkan perdamaian,”yang diselenggarakan Solidaritas Perempuan untuk HAM (SPEK-HAM) Solo, di Balai Tawangpraja, Pemkot Surakarta Senin (31/8).
Selain pihak kepolisian, masyarakat dan stakeholders kota lainnya senantiasa mengusung pemahaman damai. Dan berani menolak prilaku kekerasan yang terjadi dimasyarakat.
”Saban malam minggu, ada sekelompok orang sekitar 15-20, mengendarai sepeda motor, dengan membawa pentungan dan sajam (senjata tajam) masuk gang-gang kampung, dan meresahkan masyarakat, padahal kita ini ingin hidup damai,” keluh Ibu –ibu Joyosuran peserta FGD.
Menurut pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Joyosuran, Agus Anwari, kerap munculnya aksi sweeping kelompok sipil di Joyosuran dilatarbelakangi beberapa paktor.
Pertama, pemahaman keagamaan yang tekstual, sehingga dalam menyampaikan dak’wah, pengajian bernada keras. Kedua, adanya kesenjangan ekonomi masyarakat, sehingga kelompok miskin ini mudah dipengaruhi untuk terlibat aksi-aksi sweeping.
Ketiga, pihak keamanan yang diharapkan sebagai benteng keamanan masyarakat belum bekerja secara maksimal. Bahkan ada kesan aparat berada dibelakang sweeping.
Sementara itu, Budi Rahmadi dari Poltabes Kota Surakarta, menegaskan bahwa pihak kepolisian selalu responship dan bersikap proporsional terhadap laporan dan aduan masyarakat. ”Sepanjang ada laporan masyarakat polisi bersikap proporsional,” papar Budi Rahmadi.
Kepala Kesbanglinmas Kota Surakarta, Suharso SH, menilai adanya kasus-kasus sosial dimasyarakat, harus dilihat apa akar masalahnya, apa sebabnya, dan bagaimana solusinya. Selain itu, masyarakat juga harus mempunyai pemahaman yang sama tentang perdamaian.
Pengalaman Pemkot saat muncul isu kerusuhan menjelang Pilpres kemarin, pihaknya mengumpulkan para preman se Surakarta, dan juga mengumpulkan para komponen laskar, aktivis masjid, untuk memberikan pemahaman perdamaian sebagai kebutuhan bersama.
Sementara itu, Pdt Bambang Mulyanto, menjelaskan bahwa agama seharusnya membawa rahmat bagi umat manusia, dan bukan sebaliknya membawa laknat. Menurutnya kelompok radikal sudah masuk keberbagai organisasi keagamaan di Indonesia.
Isharianto Wiyono, SH, M.Hum, dosen FH UNS, selaku fasilitator, kegiatan ini bertujuan, pertama, membangun komunikasi yang efektif antar lembaga/instansi dalam menyelesaikan konflik keberagaman di masyarakat.
Kedua, membangun persepsi yang sama antar lembaga/instansi dalam membangun perdamaian di Kota Surakarta. *** (cecep-commitment)
