Diantara lembutnya budaya dan perilaku warga Solo ternyata menyimpan satu potensi ‘konflik’ yang bisa meletup setiap saat. Berbagai kerusuhan dan bentuk-bentuk kekerasan pernah/ sering terjadi di kota Solo. Berbagai catatan ‘hitam’ telah ditorehkan warga Solo dengan berbagai kerusuhan/ konflik yang pernah terjadi. Menurut sejarawan Soedarmono, paling tidak Solo dilanda 13 kali kerusuhan massa sejak geger pecinan tahun 1743, dan terakhir peristiwa Rabu Kelabu Mei 1999. Itu belum termasuk konflik-konflik ”kecil” yang tidak sampai berlanjut ke kerusuhan massa. Disamping itu, Kota Solo juga cukup dikenal sebagai tempat ‘persemaian’ dari kelompok-kelompok radikal. Beberapa peristiwa besar yang terkait dengan isu terorisme, gerakan laskar, radikalisasi kelompok tertentu selalu dikaitkan dengan Kota Solo.
Disisi yang lain, Pemerintah Kota Solo memiliki semboyan Solo, “the spirit of Java” yang telah menjadi branding selain semboyan BERSERI, yaitu Bersih, Sehat, Rapih dan Indah. The Spirit of Java mencerminkan kedalaman makna akan akar budaya, seni dan sejarah kota Solo, sehingga kota ini berhak mengklaim kotanya sebagai “Jiwanya Jawa”.
Apakah slogan Solo Spirit of Java, akan mampu menjaga pluralitas masyarakat Solo? Apakah slogan tersebut mampu menjadikan Solo sebagai kota aman dan nyaman bagi semua kelompok/ pihak? Apakah slogan tersebut akan mampu meredam radikalisasi warga Solo?
Untuk membahas hal tersebut COMMITMENT akan mengadakan dialog interaktif di pada hari Jum’at, 26 Maret 2010 pukul 19.30 WIB – 20.30 WIB. Radio Republik Indonesia (RRI) Jl. Abdul Rahman Saleh No. 51, Surakarta dengan tema “SOLO THE SPIRIT OF JAVA, Mampukah Meredam Budaya Kekerasan Dalam Masyarakat”. Dengan pembicara yang dihadirkan adalah Drs. Sudarmono, SU (Budayawan), Drs. MT. Arifin(Pemerhati Sosial Politik), dan Drs. Anung Indro Susanto, MM (Ketua Bappeda Pemkot Solo)
Dari acara ini diharapkan akan muncul kesadaran bagi warga masyarakat Kota Surakarta untuk menjaga harmonisasi kehidupan dalam bingkai multikultural di kota ini.