Media Keberagaman.Com-Solo. Kebebasan memeluk agama dan menjalankan keyakinan telah dijamin oleh negara yang tersurat dalam UUD’45 pasal 28 ayat 1 dan 2. Kebebasan ini mutlak di dapatkan oleh setiap orang dan tidak ada seorangpun yang bisa mengganggu. Hal ini disampaikan dalam diskusi lintas agama yang diselenggarakan oleh Forum Perdamaian Lintas Agama dan Golongan (FPLAG) Surakarta. Acara yang diselenggarakan di Sasono Mulyo Baluwarti (kompleks Keraton Solo) pada Sabtu (16/01) dimulai pukul 09.00 hingga 13.00.
Diskusi diikuti sekitar 30 orang dari beberapa perwakilan kelompok agama dan tokoh masyarakat. Diantara yang hadir adalah Badan Antar Gereja-gereja Kristen Surakarta (BAGKS), Jama’ah Ahmadiyah Solo, perwakilan Umat Budha, utusan GKJ Baki Sukoharjo, perwakilan umat Muslim, tokoh masyarakat Joyosuran dan lain-lain. Acara yang digelar secara lesehan dan sederhana tetapi menarik dengan materi pembicaraan seputar kasus-kasus dengan mengambil tema “Membedah Kasus-kasus Intoleransi di Kota Solo dan Sekitarnya dalam Kerangka Menjaga Kebebasan Agama dalam menjalankan Ibadahnya” .
Acara tersebut menghadirkan narasumber Pendeta Paulus Hartono,M.Min (direktur FKPI Kota Solo), Drs. Gusti Dipokusumo (Keluarga Keturunan Keraton Solo) dan Ir. H. Munawar, M.Si (Ketua FPLAG Kota Solo), dipandu oleh Basmono. Dalam paparannya Paulus Hartono menyampaikan, bahwa ada 3 tingkatan Intoleransi yaitu Pola pikir/formalisme,Tindakan/kebencian yang dipengaruhi pola pikir, dan Intimidasi /agama dan suku. Sedangkan untuk mematahkannya pertama, menghilangkan stigma Solo sebagai Laboratorium Kerusuhan. Kedua kerekatan tokoh – tokoh masyarakat, agama dan antar umat.
Sedangkan pembicara kedua Ir. Munawar, M.Si, bahwa Islam mengatur hubungan manusia dan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Tetapi hubungan itu harus berdampak positif baik kepada sesama maupun kepada alam. Sedangkan dalam ajaran Islam hubungan manusia dengan Tuhan disebut Habluminallah, secara tegas tersurat dalam Q.S. Al-Kafirun 6 : “Lakum dinukum Waliyadin” sedangkan hubungan manusia dengan sesama manusia disebut Hablumminannas.
Dalam Hablumannas ada 3 ukhuwah, yaitu, ukhuwah Islamiyah, ukhuwah watoniyah dan ukhuwah basyariyah, ini tersurat dalam Q.S. Al Anmbiya 107 : “Allah tidak mengutus Muhammad (menurunkan Islam) kecuali sebagai kasih sayang bagi seluruh alam semesta”. Artinya kasih sayang tidak hanya untuk sesama muslim, seluruh warga Negara, seluruh umat di dunia tetapi juga seluruh alam semesta. Kemudian Gusti Dipokusumo memaparkan, bahwa dalam menghancurkan intoleransi merunut sejarah bahwa jaman dahulu Sultan Agung dalam menghadapi gempuran Belanda menyatukan semua masyarakat dalam membangun meriam.
Paparan dari narasumber disambut oleh peserta dengan beberapa pertanyaan, diantaranya, Sugiman dari Jama’ah Ahmadiyah yang menanyakan apakah ciri-ciri datangnya ratu adil. Kemudian dilanjutkan oleh Suranto dari Joyosuran yang memberikan data kasuistis, bahwa pada tanggal 2 Januari 2010 jam 2 malam ada gerombolan laskar jihad dengan mengendarai sekitar 60 sepeda motor masuk ke gang-gang. Mereka mencari orang–orang yang sedang mabuk-mabukan. Tetapi dikatakan oleh Suranto yang juga aktif sebagai FKPM (Forum Kemitraan Polisi Masyarakat), ada kegelisahan dari masyarakat karena jam tersebut saatnya orang tidur nyenyak dan istirahat harus di kejutkan dengan pola-pola seperti itu.
Selain Suranto juga penanya Daniel Mulyono dari Gereja Bukit Sion, bahwa dirinya telah bertahun – tahun memberikan pelayanan kepada kelompok pemulung, tukang becak, pengamen. Bahwa saat ini jema’atnya sudah 200 orang. Saat ini ia dalam menjalankan pelayanan tidak ada kendala atau gangguan dari pihak lain, yang jadi persoalan bahwa gerejanya saat ini akan dilakukan relokasi oleh pemerintah kota. Menurutnya, diakui bahwa tanah yang ditempati untuk gereja adalah tanah pemerintah sehingga tidak ada ijin IMB.
Selain penanya juga ada tanggapan khusus atau masukan berkaitan materi diskusi tersebut. Dikatakan oleh Zainal Abidin dari Insan Emas, bahwa indentifikasi persoalan diatas adalah pada tataran moral dan perlu waktu, pemahaman agama harus diluruskan untuk menghargai sesama pemeluk agama, jadi perdebatan tentang bid’ah sudah tidak ada lagi.
Paulus Hartono mengatakan, memang saat ini ada stigma Solo sebagai laboratorium kerusuhan. Data ini didapatkan saat pertemuan dengan perwakilan Hillary Clinston (Menlu AS) saat berkunjung di kota Solo dan mengadakan pertemuan dengan walikota Solo Joko Widodo. “Ungkapan diatas memang didasarkan fakta-fakta yang ada, tetapi kita harus berusaha bagaimana menjaga perdamaian di Solo tersebut dengan menggandeng semua elemen masyarakat. Mulai tokoh masyarakat, tokoh agama, kelompok pemuda dan semua elemen tanpa terkecuali sehingga pemahaman Intoleransi tidak bisa hidup lagi di Solo.” tegas Paulus. (JLD)