Buku yang belum sempat beredar dikhalayak umum ini, menjadi buah bibir masyarakat Kota Bengawan, lantaran Majlis Ulama Indonesia (MUI) Solo, menilai bahwa buku Pendidikan Perdamaian Berbasis Islam (PPBI) edisi try-out tahun 2009 yang diterbitkan Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyesatkan. MUI merekomendasikan kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) agar menghentikan peredaran buku tersebut. Plt Ketua MUI Solo Dr.dr. Zaenal Arifin Adnan, mengungkapkan surat MUI itu bermula dari laporan orang tua siswa MTsN 2 Solo kepada MUI.
Setelah menerima laporan kemudian MUI mengadakan kajian khusus terhadap buku tersebut oleh Komisi fatwa dan Komisi Hukum Syariah. MUI mencatat sebanyak tujuh item dari sekian banyak item yang menyesatkan. Salah satunya sub judul Tauhid adalah berpihak kepada kebenaran. MUI memberi catatan bahwa Tauhidlah yang mendorong seseorang melakukan kebenaran, MUI mempertanyakan bagaimana dengan tolong menolong dalam kejahatan, Solopos (11/7).
Salah satu penulis buku Asyhuri menambahkan mestinya buku itu tidak untuk dimusnahkan, melainkan perlu adanya revisi terhadap materi yang bermasalah. Penilaian orang berbeda-beda. Bisa saja hal itu hanya miss understanding. Menurut ia dalam buku itu dibahas 17 nilai yang menjunjungtinggi perdamaian dalam Al-Quran. Adapun tujuan penerbitan itu yakni mengungkapkan pemahaman bahwa Islam itu agama yanag penuh kedamaian. Melalui buku itu, pihaknya ingin menepis anggapan bangsa lain bahwa Islam adalah agama teroris. Solopos (13/7).
Halaman 22 tentang Tauhid dijelaskan bahwa, tauhid adalah berpihak kepada kebenaran. Islam mengajarkan bahwa tolong menolong itu suatu kebenaran. Mengentaskan kemiskinan itu merupakan tindakan yang benar. Membangun kehidupan bersama yang aman, sejahtera, damai dan harmonis adalah tindakan yang benar. Kamu bersikap dan bertindak yang memihak kepada kebenaran itu termasuk tauhid. Sebaliknya menyia-nyiakan orang lain merupakan kezaliman. Membiarkan orang lain terpuruk dalam kemiskinan juga merupakan tindakan yang tidak benar. Kamu bersikap dan bertindak yang memihak kepada kezaliman dan kenistaan itu termasuk syirik.
Kalau kita melihat kembali Al-Quran Surat Al-Ma’idah ayat 2, yang artinya ; ”Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya“.
Ayat ini sebagai dalil yang jelas akan wajibnya tolong menolong dalam kebaikan dan takwa serta dilarang tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan seluruh manusia agar tolong menolong dalam mengerjakan kebaikan dan takwa yakni sebagian kita menolong sebagian yang lainnya dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan saling memberi semangat terhadap apa yang Allah perintahkan serta beramal dengannya. Sebaliknya, Allah melarang kita tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Di akhir ayat ini Allah mengancam dengan siksaan-Nya yang keras bagi siapa saja yang berbuat dosa dan pelanggaran ataupun tolong menolong di dalam perbuatan tersebut.
Yang menarik bahwa redaksi seperti ayat ini “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa” ternyata hanya tersebut sekali dalam Al-Qur’an, sehingga ayat ini harus difahami dalam konteks umum; umum dari segi sasarannya dan umum dari segi jenis kebaikan yang dituntutnya. Sungguh sebuah pesan universal dari Islam yang merupakan karakter dan fitrah dasarnya sebagai Rahmatan lil Alamin.
Secara redaksional juga, Allah Swt memadukan dalam ayat ini antara perintah dan larangan-Nya “tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan dengan mendahulukan konsep tahliyah ‘hiasan akhlak yang mulia’ yang berupa ta’awun (kerjasama) dalam kebaikan dan takwa atas konsep takhliyah ‘pelepasan akhlak yang buruk’ dalam bentuk membebaskan diri dari perilaku ta’awun atas dosa dan permusuhan adalah untuk memperkuat sisi ta’awun dalam kebaikan sehingga senantiasa mewarnai dan dominan di tengah masyarakat. Karena demikian, perilaku sebaliknya tidak akan muncul di tengah-tengah masyarakat. Lantas apa yang sesat dari buku ini? ***
Mari kita sebarkan salam, sebarkan kedamaian di tengah lingkungan kita. Sebarkan kedamaian keseluruh penjuru bumi yang kita huni ini. Bila ditengah lingkungan kita ada ketidakadilan, ada kezaliman, mari kita cari pemecahannya secara damai. Mari kita belajar dari teladan Nabi Muhammad SAW, yang beliau kibarkan bukan bendera kekerasan, namun bendera kedamaian. Kalaupun dalam sirahnya, Nabi pernah terlibat dalam peperangan, maka itu semata untuk tujuan mempertahankan diri. Yang beliau kedepankan tetap kedamaian. Kata ajakan itulah sebagai pembuka dari kepala Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), M Abdul Fattah Santoso, dalam sambutan buku/modul Pendidikan Perdamaian Berbasis Islam (PPBI).
Sementara itu penanggung jawab program, Yayah Khisbiyah, dalam kata pengantar buku/modul tersebut menjelaskan bahwa, kemajemukan yang terdiri dari sekitar 300 suku bangsa dan berbagai kepemelukan agama serta keyakinan, kerap dinegasikan. Akibatnya visi kebangsaan bhinneka tunggal ika terlukai oleh tindakan-tindakan anarki kekerasan. Secara sadar atau tidak, intoleransi dan kekerasan disosialisasikan oleh berbagai agen sosialisasi seperti media massa, kebijakan birokrasi yang parsial, dan ironisnya, juga oleh sistem pendidikan yang elitis serta lembaga-lembaga keagamaan yang dogmatis-divisif. Kasih sayang kepada sesama manusia dan semua mahluk hidup beserta alam kurang dihayati dan dipraktikkan oleh sebagaian besar kita. Multikulturalisme yang mengedepankan kemajemukan dalam kesetaraan kurang diapresiasi dan dirawat secara konstruktif sehingga segregasi sosial menajam dan konflik sektarian bereskalasi.
Dalam upaya merespon masalah tersebut, ajaran Islam sesungguhnya mampu memberi kontribusi sebagai problem solver secara berharga. Tradisi Islam yang toleran, inklusif, berkemajuan, berkeadilan, dan berkeadaban perlu digali dan diterapkan untuk membantu mewujudkan kehidupan bersama yang lebih adil, damai dan benebarkan berkah bagi seluruh warga masyarakat, di Indonesia khususnya, dan di dunia umumnya.
Pendidikan Agama Islam teristimewa seyogyanya mempu menjadi guiding light yang berfungsi menuntun siswa-siswi Muslim menjadi insan berakhlak dan berbudi pekerti luhur. Misalnya mampu memperaktekkan nilai-nilai keadaban (civility), seperti menghargai pandangan, hak asasi orang lain, menjunjung keadilan, menghindari kekerasan, dan menghormati kenekaragaman.
Menyadari pentingnya menyebarkan kedamaian dan pada saat yang sama berjalan menuju kesana, tidak semudah mengucapkannya, Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) beserta mitranya empat sekolah tingkat menengah pertama di Surakarta (SMPN 4 Surakarta, SMP Muhammadiyah I Surakarta, MTsN 2 Surakarta dan MTs PPMI Assalaam Surakarta), berikhtiar merintis Pendidikan Perdamaian Berbasis Islam (PPBI).
Dengan menerapkan visi pedagogis holistik, yaitu tujuan pendidikan bukan sekedar belajar untuk mendapatkan pengetahuan (learning to know), untuk mampu bekerja (to do), dan untuk menjadi manusia utuh (to be). Tetapi yang juga penting dalam konteks fakta kemajemukan masyarakat Indonesia dan dunia adalah tujuan belajar untuk berkehidupan bersama (learning to live together), secara adil dan damai.
Daftar isi buku atau modul PPBI ini terdiri dari, prakata dari Kepala PSB-PS-UMS), kata pengantar dari penanggung jawab program. Selanjutnya Bab I Pedahuluan menjelaskan tentang ; Urgensi dan signifikansi Pendidikan perdamaian. Pengertian dan tujuan pendidikan perdamaian berbasis Islam. Metode dan alur materi pendidikan perdamaian berbasis Islam. Istinbath ; Strategi mengimplementasikan pendidikan perdamaian berbasis Islam.
Sedangkan Bab II Dimensi Fundamental berisikan ; Tauhid (Menegakkan Keesaan Allah, membangun Kesatuan Kemanusiaan). Rahmah (Berbelas kasih, berbagi sayang). Musawah ( meski berbeda, tetapi bersaudara). Ummah ( berbeda itu biasa, bersama itu luar biasa).
Bab III, Dimensi Sikap dan Prilaku, antara lain mengupas mengenai ; Husnuzhan ( berbaik sangka pada sesama). Tasamuh (menenggang rasa, merajut harmoni), Takrim (menebar penghargaan, menuai kehormatan), Tafahum (memelihara saling pengertian, membangun kesepahaman), Amanah (memelihara kepercayaan, memikul tanggung jawab), Ihsan (merajut solidaritas, menuntut pengorbanan), Fastabiqul Khayrat (berlomba meraih prestasi), Islah ( mengurai konflik secara damai), ’Afw (menanam maaf, mengetam ampunan), Sulh (membangun budaya damai dalam kehidupan bersama).
Isi Bab IV, Dimensi Hasil yang antara lain mengurai tentang, ’Adl (menegakkan keseimbangan, menggapai keadilan), Lyn (kelembutan-anti kekerasan- buah dari rahmat dan ihsan). Salam (damai di hati damai di bumi).
Membaca buku/modul yang tebalnya 242 halaman ini, kita seakan-akan tengah membaca komik tentang perdamaian versi Islam. Ditulis dengan huruf-huruf agak besar, setiap halaman ada gambar atau kartun, dilengkapi glossarium, yang disertai dalil Al-Quran dan Al-Hadits. Modul ini cukup menarik untuk kalangan generasi muda, dan pendidik serta aktivis perdamaian yang ”merasa berat” memahami dalil-dalil agama. Disusun oleh tujuh orang profesional, diantaranya Abdullah Aly lulusan S3 IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Ahmadi alumni S2 Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta, Asyhuri lulusan S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Fattah Santoso jebolan S3 IAIN Jogjakarta, Nurul Azimah Lulusan, S1 STAIN Surakarta, dan Yuyun Farista lulusan STAIN Surakarta, serta Zakiyuddin Baidhawy, lulusan S3 UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta.
Tentang polemik buku ini, menurut informasi dari PSB-PS UMS, buku PPBI tengah dianalisis oleh PP Muhammadiyah. Apakah penilaian buku ini sesat atau tidak, kita tunggu saja keputusan dari PP Muhammadiyah.(cecep-commitmentsolo)*** pic courtesy solopos