Harian Solopos: Hakikat agama penyemai kebaikan

Categorized Under: Artikel No Commented

MediaKeberagaman.com, Solo. Orang-orang sering bertanya, mengapa produk agama tidak bisa dihargai sebagaimana produk ilmu pengetahuan dan teknologi atau Iptek? Mengapa sekolah di jurusan agama justru langka peminat padahal biayanya sangat murah? Mengapa justru lewat “tangan-tangan” agama muncul kekerasan? Adakah yang salah dalam keberagamaan? Bukankah khotib Jumat mengatakan bahwa agama membawa kedamaian dan kebaikan.

Bukankah para ustaz dan kiai memfatwakan kebaikan agama di setiap majelis taklim yang diasuhnya setiap malam. Lalu apa yang salah?

Pertanyaan ini sangat mendasar dan sulit untuk dicari jawabannya secara pasti. Sebab jujur saja, agama bisa menjadi penggerak secara kolosal, baik untuk kebaikan umat jemaahnya, pun untuk menghancurkan lawan jemaah. Betapa sering agama dijadikan alasan untuk “menghancurkan” komunitas yang tidak kita sukai. Ambil contoh bila ada calon presiden yang agamanya non-Islam, siapkah umat Islam dipimpin olehnya? Jawabnya, tidak. Mengapa? Karena ada doktrin yang menyatakan orang kafir “tidak” layak menjadi pemimpin orang Islam.

Atau ada Ormas Islam yang memiliki ritual berbeda dengan kita, apakah kita mau menoleransi sebagai bagian dari khazanah keislaman? Jawabnya, barangkali kita mau menoleransinya. Apalagi kalau kita sudah menganggap bahwa Islam yang benar adalah Islam yang berlandaskan Alquran dan hadis, selain itu tidak. Bukankah saat ini di kampus mulai muncul gerakan kembali ke Quran dan hadis. Bahkan dengan tegas menyatakan, umat Islam tidak perlu lagi bermazhab.

Sebenarnya masalah ini bisa dipertanyakan ulang. Kalau umat Islam tidak bermazhab, berarti ia mengikuti mazhab orang yang menyerukan untuk tidak bermazhab. Kalau begitu, ini namanya apa? Barangkali sebutannya adalah berislam tetapi mazhabnya tanpa mazhab. Atau mazhab baru adalah tanpa mazhab. Bila merujuk ayat Alquran, Allah berfirman, takwa adalah sebaik-baik pakaian (QS Al A’raf: 26). Pertanyaannya, mengapa ungkapan takwa diilustrasikan sebagai pakaian?

Tercabik

Komaruddin Hidayat dalam buku Psikologi Beragama (2010), menyatakan pakaian itu berfungsi; pertama, untuk menjaga kesehatan. Mereka yang tinggal di daerah dingin sangat sadar akan fungsi pakaian untuk menjaga kesehatan. Kedua, untuk menutup aurat. Fungsi ini mengingatkan kita terhadap cerita Adam yang terusir dari surga karena memakan buah khuldi. Lalu, Adam menemukan dirinya telanjang dan ia pun merasa malu. Kemudian, ia menutupi auratnya dengan dedaunan.

Salah satu aspek yang membedakan manusia dan monyet adalah manusia mengenal konsep aurat, lalu mengenakan pakaian. Ketiga, orang berpakaian selalu mempertimbangkan aspek estetika atau seni agar indah dipandang. Bahkan, aspek keindahan ini telah membuat harga pakaian berlipat ganda ketika mendapat sentuhan perancang atau desainer ternama.

Inilah tiga fungsi utama pakaian yang bisa dianalogikan dengan agama. Seseorang yang beragama mestinya jiwa dan badannya menjadi sehat, kehormatan dirinya terjaga, dan perilakunya serta tutur katanya enak dipandang dan didengar.

Sayangnya, fenomena yang dilukiskan Komaruddin Hidayat akhir-akhir ini terkadang tercabik dengan isu terorisme. Seolah sebagian umat Islam senang dengan “kedamaian”, tetapi dengan cara meneror. Bukankah konon alasan teror adalah ingin membentuk kehidupan dunia yang lebih adil?

Atau sering kita mendengar dakwah, baik di mimbar maupun di media massa, yang isinya justru menyalahkan, dan lebih parah memberi hukum pada Ormas Islam lain sebagai ahli neraka. Dan di sisi lain, menganggap kelompok sendiri yang paling benar.

Bila agama sudah melenceng dari ajarannya yakni mengajak manusia untuk hidup bahagia dunia dan akhirat, pertanyaannya, siapa yang layak dipersalahkan? Ulamanyakah? Bukankah mereka disebut ulama karena memiliki ilmu. Tetapi mengapa ilmunya digunakan untuk menghujat.

Catatan terakhir adalah ada hadis Nabi SAW yang menceritakan tentang tragedi doa ulama. Yakni, dari mulut ulama keluar fitnah, dan fitnah itu akan kembali kepadanya. Akibatnya, doa para ulama itu tidak didengar oleh Allah. Ulama yang seperti ini dianggap sebagai seburuk-buruk makhluk Allah yang ada di kolong langit. Na’udzubillah.

Maka Al Ghozali memilah ulama menjadi dua golongan, yakni; ulama khoir (baik), dan ulama syu’ (jelek). Ulama khoir adalah ulama yang memang benar-benar mengajak ke kebenaran. Sebaliknya, ulama syu’ adalah ulama yang “seolah-olah” mengajak ke kebenaran, tetapi sebenarnya menuju ke keburukan. Misalnya, mengajak salat, tetapi sebenarnya hanya untuk pamer atau seolah mendakwahkan Islam, tetapi justru menghancurkan Islam.

Akhirnya, Islam adalah agama yang terbaik, janganlah kehebatan Islam dan nama baik Islam dirusak oleh umat Islam sendiri. Jangan sampai. Bismillah. – Oleh : Kholilurrohman Dosen STAIN Surakarta (sumber: solopos cetak, Edisi : Jum’at, 11 Juni 2010 , Hal.4)

If you enjoyed this post, make sure you subscribe to the feed and get future news delivered to your email!

Leave a Reply