MediaKeberagaman.Com-Solo. Malam minggu kemarin hujan rintik-rintik membasahi Kota Bengawan. Walau hujan turun, tak mempengaruhi ratusan warga kota hadiri do’a bersama dalam rangka peringati 40 hari wafatnya mantan Ketua PB NU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di Plataran Pasar Ngarsopuro, Solo, Sabtu (6/2).
Tokoh masyarakat Kota Batik yang hadir diantaranya; Walikota Solo H.Ir Joko Widodo (Jokowi). Ir. H. Almunawar, M.Si (Ketua Forum Perdamaian Lintas Agama dan Golongan-FPLAG), Drs.H. Suyono Musyafa, M.Si (Tokoh NU), Yosef (Tionghoa), WS.Ari Barto, SH (Kong Hu Chu), Tanto Kristianto dari Badan Antar Gereja-gereja Kristen Surakarta (BAGKS). Pdt Retno Ratih (GKJ Manahan), Bagyo Hadi (Hindu), H Zainal Abidin (LSM Insan Emas), Mayor Haristanto (Republik Aeng-aeng), Wari Wirana (Budayawan), Agus Dukun (Seniman), dll.

Selain doa bersama, acara yang digagas elemen masyarakat lintas agama, aktivis LSM, budayawan, dan mahasiswa itu menampilkan juga aneka kesenian seperti Qosidah, Tari Bali, Tarian Barongsai, dan pembacaan puisi, serta kidung Panembromo (kidung berbahasa Jawa), di menyanyikan oleh 20 orang dari Kraton Kasunanan.
Dalam acara tersebut, juga dilakukan penandatanganan deklarasi dengan tajuk ” Merayakan dan Memperjuangkan Pluralitas” oleh perwakilan agama. Ketua Panitia Pelaksana Almunawar, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk menjaga persaudaraan, pluralitas, kebersamaan warga kota yang hidup dalam kemajemukan.

Subagyo dalam testimoninya menjelaskan, bahwa Gus Dur memiliki sifat momot (menampung), dan bisa menerima orang dari kalangan manapun. Menghargai dan membela orang-orang tertindas, dan bukan berpihak kepada penindas. Acara berjalan lancar, sekitar jam 23.00 peserta doa sayonara. (JLD).
