MediaKeberagaman.Com-Solo. Sekitar 20 warga Kelurahan Joyosuran, Pasarkliwon, mengikuti pelatihan transformasi konflik yang diselenggarakan oleh Forum Kemanusiaan dan Perdamaian Indonesia (FKPI) di kawasan pegunungan Tawangmangu, Karanganyar, Sabtu – Minggu (23-24/01).
Tampil sebagai fasilitator adalah HM Dian Nafi’ dari pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Windan, Surakarta dan Pdt Paulus Hartono, aktivis Forum Perdamaian Lintas Agama dan Golongan (FPLAG) Surakarta sekaligus sebagai Direktur FKPI. Pelatihan ini merupakan lanjutan dari pelatihan pertama pada bulan November dan kedua bulan Desember 2009 lalu.
Pemetaan konflik, kata Paulus Hartono yang mengambil thema Kearifan Lokal Dalam Membangun Komunikasi yang baik, dapat ditemukan dalam, pertama adalah budaya, kedua bahasa tubuh dan ketiga adalah sikap.

Contoh Budaya, sikap menghargai sesama dengan ungkapan pamit atau izin kalau mau bepergian. Terima kasih, mohon maaf, permintaan tolong dan masih banyak lagi istilah dipergunakan oleh rakyat Indonesia yang bernuansa perdamaian. “Sering kita merasa malu untuk minta maaf, padahal kata maaf adalah pintu perdamaian,” tegas Paulus.
Contoh bahasa tubuh, budaya jawa mengatakan, senyum adalah sumber cinta kasih dan senyum adalah sumber perdamaian. Menurut orang Cina, kalau tidak bisa senyum tidak usah berdagang. Bahas tubuh yang lain diantaranya tatapan mata, acungan jempol, yang menandakan penghargaan kepada orang lain. Jabat tangan, tepuk tangan, tepuk punggung dll. Semuanya itu ada dalam diri kita, dan bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh ketiga, Sikap, hindari menggunakan kata-kata kasar, kotor, jorok, dan marah. Karena sikap seperti itu akan menimbulkan konflik.
Sementara itu, menurut Dian Nafi dalam menyelesaikan konflik ada empat tahapan yaitu pertama, Introduction (perkenalan), kedua, Story Telling (penceritaan masalah), ketiga, Pemecahan Masalah, yaitu menggali penyelesaian bersama, mendaftar kesamaan- kesamaan yang ada, mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin timbul, dan keempat, Tahap Kesepakatan, yaitu meringkas kesepakatan para pihak.

“Memastikan bahwa kesepakatan itu berbicara tentang hal-hal yang smart, kesepakatan mencakup penanganan masalah yang timbul dikemudian hari, meminta masing-masing pihak mendukung dan kesepakatan tersebut ditulis serta ditanda tangani bersama,” kata Kyai Dian.
Akhir acara, rencana tindak lanjut (RTL) kedepan mengadakan Focus Groups Discussiont (FGD) untuk warga Joyosuran. Membahas isu konflik dan solusi serta harapan akan terwujudnya perdamaian di wilayah Joyosuran yang kerap muncul konflik khususnya kekerasan bernuansa agama. (Jld)
