Masyarakat Sekitar Rumah Ibadah Berperan Penting Dalam Membina Kerukunan & Toleransi

Categorized Under: Kegiatan No Commented

KetakutanMediaKeberagaman.com, Solo. Masalah Pengaturan Pendirian Tempat Ibadah bukan masalah yang ringan dan sepele tentunya. Pendirian tempat ibadah adalah persoalan krusial ditengah-tengah masyarakat yang majemuk dengan latar belakang sosial yang multikultur dan multi agama seperti di Indonesia ini. Banyak pihak berharap permasalah yang rumit ini bisa terurai menjadi lebih sederhana sehingga masalah pendirian tempat ibadah dapat diselesaikan secara adil terhadap semua pihak.

Lontaran tersebut muncul dari para anggota Badan Antar Gereja Kota Surakarta (BAGKS) yang terlibat dalam satu forum dialog yang menghadirkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surakarta. Sebagian anggota BAGKS yang hadir adalah korban penutupan tempat ibadah oleh sekelompok organisasi masyarakat sipil berkedok agama dan mereka berharap FKUB Kota Surakarta bisa membantu penyelesaian permasalahan yang dihadapi oleh sebagian anggota BAGKS.

Diskusi Oleh SpekhamDiskusi ini sendiri diprakasi olehSolidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) yang bekerja sama dengan BAGKS bertajuk “Pengaturan Pendirian Tempat Ibadat Sesuai Peraturan Bersama Nomor 8/9 tahun 2006″ di Ramayana Resto Selasa, 08 Desember 2009. Pada awal diskusi anggota FKUB mencoba memaparkan beberapa keberhasilan dan hasil kerja FKUB surakarta seperti mengadakan workshop dengan menghadirkan nara sumber dari UNS, membuat SOP untuk rekomendasi IMB rumah ibadah, hingga memberikan rekomendasi Gereja Pucang Sawit.

Diskusi yang menghadirkan KH. Solechan Mahdum Cahyono dari FKUB dan Pdt. Anton Karundeng dari BAGKS memaparkan bahwa masyarakat sekitar rumah ibadah mempunyai peranan yang penting dalam membina kerukunan dan toleransi. Disamping itu perilaku sosial pengguna rumah ibadah juga sangat penting, ada hukum timbal balik yang berlaku disana. Pendapat ini dikemukakan oleh Pdt Frenky salah satu peserta diskusi, beliau menceritakan indahnya toleransi yang terbina antara gereja dan masyarakat sekitar gereja yang dipimpinnya. Hal ini menurut beliau adalah karena perilaku sosial pengguna gereja yang baik dan menghormati linkungan sekitarnya sehingga masyarakat sekitar pun berperilaku positif kepada pihak gereja. “Kami selalu menghormati lingkungan sekitar gereja, sehingga tidak heran pada saat idul adha kemarin gereja kami juga menikmati sate dan gulai dari daging pemberian warga” Paparnya.

Diskusi Oleh Spekham Sedang KH. Solechan Mahdum menyampaikan komitmennya untuk lebih mengefektifkan keberadaan FKUB dalam waktu-waktu mendatang. FKUB berencana akan melakukan sosialisasi terkait dengan pendirian rumah ibadah agar semua lapisan masyarakat paham tentang aturan-aturan yang ada, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman diantara masyarakat yang berbeda keyakinan. FKUB juga berjanji akan menindaklanjuti beberapa kasus penutupan tempat ibadah untuk segera dicarikan solusi bersama-sama. Semoga pertemuan ini akan menjadi awal yang baik untuk mendorong FKUB untuk berperan lebih baik dimasa mendatang. (MHR-Tovfha)

Berita Terkait:

Dapatkan Berita di Email anda! Berlangganan berita kami dengan memasukkan email anda

Masukkan email anda:

Leave a Reply