Meretas Dialog Perdamaian dalam Kemajemukan

Categorized Under: Artikel No Commented

Asep Nanda SpekhamMasalah yang pelik bagi upaya mengembangkan suatu pemahaman menyangkut kemajemukan agama dan kepercayaan memang sering kali muncul dari kepentingan untuk tetap menyantuni eksistensi masing-masing. Selain itu juga harus melenturkan fanatisme yang mengakar kedalam dada semua umat bertabrakan dengan fakta sosial yang mewarnai kota Surakarta. Selain itu secara historis masing-masing agama memiliki konstribusi.

Yang juga berarti tidak akan terselesaikan saat kita jika hanya mencari-cari perbedaan yang ada diantara agama yang satu dengan yang lain. Sehingga langkah konstruktif yang harus diambil adalah membuka ruang-ruang dialog perdamaian antar umat beragama karena dengana itu akan membawa masyarakat kepada satu karakter pemahaman yang utuh tentang diri dan komunitasnya.

Dan dalam membuka dialog jangan sampai salah dalam menyampaikannya, karena akan memantik kesalahpahaman ditingkat masyarakat yang fanatis terhadap agamanya masing-masing. Sehingga diperlukan dorongan untuk terciptanya dialog yang kreatif yang akan membawa masyarakat kearah yang lebih terbuka, toleran dan saling menghormati satu sama lain.

Pemerintah Kota sebagai pengayom masyarakat kota Surakarta yang begitu majemuk memiliki pekerjaan rumah yang berat untuk mengelola the existing religions and faiths yang ada dan mentransformasikannya menjadi energi penggerak efektif untuk menata masyarakat. Transformasi energi yang dimiliki oleh komunitas-komunitas agama ini menjadi mutlak demi menghindari terjadinya gap yang bersendi pada pertentangan klaim-klaim kebenaran antara satu komunitas agama dengan komunitas lainya.

Kalaupun dibeberapa tempat di kota Surakarta pernah terjadi konflik yang sering kali melibatkan peretentangan satu komunitas agama dengan lainnya kita masih harus tetap optimis bahwa kejadian tersebut bukan sama sekali konflik agama. Masih adakah ruang bersama yang dapat menampung segala sistem ide yang berbeda, dan melihatnya sebagai perbedaan yang terbekati, bukan perbedaan sebagai ancaman? Surakarta hingga saat ini masih menjadi ruang yang masih dapat menampung perbedaaan sistem ide yang beragam dan dapat dikatakan sangat banyak berseliweran, namun sampai kapan? Pada tingkat itulah pentingnya pemerintah kota mendorong dialog antar agama yang telah dirintis oleh pelbagai pihak dewasa ini kearah yang lebih konstributif bagi memelihara kohesi dan tertib sosial. (Asep Nanda P: Penggiat SPEK-HAM Surakarta)

Berita Terkait:

Dapatkan Berita di Email anda! Berlangganan berita kami dengan memasukkan email anda

Masukkan email anda:

Leave a Reply