MUI meminta buku PSB UMS ditarik dari peredaran

Categorized Under: Berita No Commented

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Solo menilai buku Pendidikan Perdamaian Berbasis Islam edisi try-out tahun 2009 yang diterbitkan Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS) UMS, menyesatkan. MUI merekomendasikan kepada Rektor UMS agar menghentikan peredaran buku tersebut. PSB-PS sendiri siap berdialog dengan MUI soal penilaian terhadap buku itu.

Plt Ketua MUI Solo Dr dr Zaenal Arifin Adnan saat ditemui Espos, di kediamannya, Jumat (10/7) malam, mengungkapkan surat MUI tersebut bermula dari laporan orangtua siswa MTsN 2 Solo kepada MUI.

“Setelah menerima laporan, kami segera melakukan kajian khusus. Buku itu dikaji oleh Komisi Fatwa dan Komisi Hukum Syariah MUI Solo,” ujarnya.

MUI kemudian menilai buku tersebut menyesatkan. Pihaknya kemudian mengirim surat meminta kepada Rektor UMS agar buku itu dicabut dari peredaran. Lebih lanjut Zaenal menyatakan buku itu sudah beredar di tiga sekolah, yakni MTsN 2, SMP Muhammadiyah 1 dan SMPN 4 Solo. Dari informasi yang diterima MUI, kata dia, peredaran buku itu ternyata tak sepengetahuan UMS. Dia menguraikan, MUI mencatat sebanyak tujuh item dari sekian banyak item yang menyesatkan.

Salah satunya subjudul Tauhid adalah berpihak kepada kebenaran. MUI memberi catatan bahwa Tauhidlah yang mendorong seseorang melakukan kebenaran. Jika tolong menolong itu suatu kebenaran, MUI mempertanyakan bagaimana dengan tolong menolong dalam kejahatan.

Sementara itu, penanggung jawab program pendidikan perdamaian berbasis Islam PSB-PS UMS, Yayah Khisbiyah, dihubungi Espos, menyatakan siap berdialog dengan MUI. Dialog itu diharapkan tidak satu arah. Sedangkan Kepala PSB-PS UMS, MA Fattah Santoso, saat dihubungi Espos mengatakan pendistribusian buku akan dibatalkan menyusul turunnya surat larangan MUI tersebut. Pihaknya baru mendistribusikan buku edisi try-out kepada empat sekolah yang menjadi mitra penulisan buku itu. “Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kami menghentikan peredaran buku itu. Kami lebih mengedepankan perdamaian daripada perpecahan umat,” tuturnya.

Saat ditanya apakah pihaknya akan menarik kembali buku itu dari edaran, ia menjawab hal itu tergantung kebijakan masing-masing sekolah. Menurutnya, beberapa penulis buku itu berasal dari sekolah mitra. m82/sif/trh (Solopos,11 Juli 2009)

Berita Lainnya:

    Dapatkan Berita di Email anda! Berlangganan berita kami dengan memasukkan email anda

    Masukkan email anda:

    Leave a Reply