Pesona ‘RAS’ (Rukun Agawe Sentosa) Dalam Seni Kethoprak dan Pesan Pluralis

Categorized Under: Artikel No Commented

Ketoprak NgampungOleh:Saifuddin Hafiz.

”Beberapa hari yang lalu, tepatnya di tiga titik ruang publik di tiga kampung kota Solo, digelar sebuah pementasan kesenian rakyat kethoprak oleh kelompok kethoprak Ngampoeng, Balekambang-Solo. Yang diadakan oleh Child Fund Indonesia sebuah lembaga yang aktif menyuarakan dan membumikan persoalan-persoalan pluralisme di tanah air. Tidak tanggung-tanggung lewat pementasan itu persoalan pluralisme menjadi tema sentral yang diangkat, menarik untuk ditonton dan tentunya juga menarik untuk dicermati pesan-pesan yang disampaikan seputar pluralisme.”

Seni dan kebudayaan adalah salah satu sisi dalam dimensi kemanusiaan yang bulat dan utuh. Ia tak cuma rekreatif yang hanya menawarkan hiburan semata, lebih dari itu ia mampu menggugah sekaligus membangkitkan kesadaran yang tersembunyi di balik ketidaksadaran seseorang. Orang menyebutnya kesadaran kritis.

Di tengah makin menyempitnya penghayatan manusia terhadap realitas plural, sungguh mempesona bila kemudian ada yang menegaskan kembali baik itu individu, organisasi ataupun kelompok, dari berbagai profesi dan berusaha membumikan bahwa manusia tercipta dan dilahirkan untuk berbeda.

Menerima perbedaan memang memerlukan kearifan besar karena menerima perbedaan itu jauh lebih sulit daripada melakukan pekerjaan. Apalagi kalau konstruksi sosialnya seperti tiada ruang untuk mengubahnya kecuali dengan membongkar landasannya. Menerima perbedaan tidak berkaitan dengan kompetensi atau ketrampilan, melainkan lebih banyak terkait dengan persepsi dan sikap. Oleh karena itu, pluralisme hanya dimungkinkan bila seseorang atau suatu kelompok memiliki persepsi dan sikap yang sesuai dengan realitas kehidupan secara menyeluruh. Menerima perbedaan memang dapat dipelajari, tetapi belajar menerima perbedaan hanya dapat dilakukan dengan cara membangun ulang persepsi tentang realitas plural.

Dalam perkembangannya ada kecenderungan telah terjadi pengikisan atas sikap, rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Dan ini tentu tidak diharapkan. Semangat untuk menyemai kembali bahwa hakekat hidup dan kehidupan seperti pelangi, adalah suatu keharusan, sehingga penghormatan dan toleransi adalah mutlak adanya.

Kesenian Kethoprak : Kesenian Rakyat

Kesenian adalah salah satu sarana/media bagi seniman yang menggambarkan kreatifitas serta ekspresi masalah dan analisis mereka, dan kethoprak merupakan salah satunya. Dalam sejarahnya kesenian yang satu ini merupakan kesenian yang cukup lama keberadaannya dan berkembang, tetapi tetap mengikuti patron-patron yang dianut selama ini: setting jaman, tema, kostum, musik, kesederhanaan pertunjukannya, serta biasanya sangat dekat dengan penonton. Kesederhanaan dalam pertunjukannya itulah, yang membuat kesenian kethoprak begitu dekat dan diakrabi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa penggemar kesenian rakyat ini meliputi hampir segenap tingkatan: usia, jenis kelamin, status sosial, pendidikan dan lain-lain.

Kesenian Kethoprak yang merupakan salah satu varian dari jenis kesenian tradisional ini lahir, tumbuh dan berkembang dengan membawa ciri khas tertentu, sebagai kekuatannya yakni kerakyatan, jiwa yang melekat dan selalu identik padanya: ajur, ajer. Lazimnya kesenian yang lain seperti wayang orang, wayang kulit, ludruk dan lain-lain diyakini telah diturunkan dari generasi ke generasi biasanya minimal tiga generasi. Sehingga dalam setiap pertunjukannya ia sangat dekat dengan penonton, disamping alur cerita yang mudah diikuti, dicerna oleh masyarakat.

Dalam mengikuti perkembangan jaman, pertunjukan kesenian rakyat ini, akhirnya lebih terbuka dalam pemilihan lakon dan temanya. Isu dan persoalan-persoalan aktual akhirnya coba diangkat dan menjadi tema sentral dan pertunjukannya dalam pertunjukannya. Yang menarik dari pementasan kethoprak Ngampoeng dan di suport oleh lembaga Commitment Solo ini adalah diangkatnya persoalan pluralisme sebagai inti ceritanya dan menjadi bagian dalam kehidupan sosial masyarakat kita.

Pesan Pluralis

Mengikuti, mencermati dan menghayati pementasan kesenian kethoprak Ngampoeng Balekambang Solo dengan judul ”RAS” (Rukun Agawe Sentosa) tersebut rasanya kita disadarkan sekaligus sebagai penegasan bahwa hakekat dari kehidupan adalah kemajemukan. Bahkan dalam theologi dan agama manapun ditegaskan pluralisme adalah suatu hal yang niscaya. Dalam kemajemukan, semestinya rasa menghormati dan toleransi terus menerus harus disemaikan. Karena dalam kenyatannya permasalahan toleransi ini masih sering muncul, termasuk di dunia Barat. Persoalan ini terutama berhubungan dengan ras dan agama. Bukankah dalam Al-Qur’an disebutkan pluralisme sebagai salah satu sunatullah (hukum alam), seperti sunatullah lainnya? Sementara dalam Injil (Yesaya 9: 5) disebutkan ”Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang telah diberikan diberikan untuk kita: lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai” ?

Dalam kaitan inilah bisa ditegaskan toleransi dan rasa menghormati dalam perbedaan, menjadi aspek terpenting. Dialog sebagai manifestasi dari pluralitas kemajemukan hendaknya menjadi jalan yang semestinya dilakukan, dialog yang aktif yang membuahkan, dialog yang berutujuan untuk mencari simpul-simpul ajaran universal yang harus diperjuangkan bersama, seperti keadilan dan perdamaian dunia. Bukan dialog pasif dan mandul, bukan dengan cara menteror, mengintimidasi apalagi kekerasan. Kalau ditelisik lebih dalam bila cara-cara yang lebih mengagungkan teror, intimidasi, dan kekerasan itu yang dilakukan berarti tidak bedanya dengan melukai saudara, teman, bahkan orang tua kita sendiri. Karena hakekatnya manusia diciptakan dari satu keturunan.

Pertunjukan Kethoprak RAS (Rukun Agawe Sentosa) yang disajikan tersebut menegaskan akan kompleksitas masyarakat kita yang plural dan bagaimana harus mensikapi. Kemasan pertunjukan yang mempesona penuh dengan nuansa kerakyatan: guyonan, sindiran dan kritik tersaji dengan apik, mampu berinteraksi langsung dengan penonton, begitu juga sebaliknya, menunjukkan adanya kesamaan emosional, sikap dan persepsi tentang pluralitas, tentunya syarat dengan pesan-pesan moral: betapa indahnya sikap toleransi dan sikap menghargai, dan bagaimana harus menyelesaikan perbedaan dengan arif dan bijak, dalam satu dialog yang penuh dengan nuansa kekeluargaan.

Seni: Bahasa Universalisme

Seni dan budaya serta kebudayaan, merupakan pancaran dan citra yang merefleksikan bahwa masyarakat masih memperlakukan tata nilai, sopan santun, dan rasa menghargai sesama dalam kehidupan di atas segalanya. Ketika yang terjadi justru sebaliknya maka dipastikan bahwa pemahaman atas manusia yang berbudaya tidaklah dipahami secara utuh, hanya kulitnya saja.

Seni dan kebudayaan mengandung dua daya sekaligus, yaitu daya yang cenderung melestarikan dan daya yang cenderung berkembang atas kemekarannya sendiri. Antar kedua daya inilah masyarakat berada dan saling mengisi, kait-mengkait. Seni dan budaya adalah satu-satunya bahasa yang sanggup menembus dan melintasi batas-batas antar manusia dan wilayah: negara, paham, perbedaan, dan lain-lain. Bahasa yang sangat membumi dan merakyat. Bukankah orang kebanyakan lebih tertarik menghadiri/menonton seni budaya daripada menghadiri forum, diskusi, seminar, sarasehan dan acara-acara sejenis?

Keuniversalan seni inilah yang bisa dijadikan sebagai perangkat/media yang ampuh untuk mengkampanyekan pesan-pesan: perlunya dialog antar umat, serta toleransi dan menghargai antar perbedaan yang ada. Dalam bungkusan seni budaya kita sering menyaksikan bentuk-bentuk kesenian yang partisipatori, yang mencoba melibatkan penonton dalam pementasan. Juga harus dimodifikasikan supaya dapat menyertakan sebanyak-banyaknya kreatifitas sosial dan masyarakat. Tentu saja norma-norma seni yang individualistik, komersil dan hierarkis perlu diubah. Jika dalam teknologi ada rekayasa, dalam seni ada kejujuran. Kejujuran yang tidak terbatas. Dan salah satunya adalah kejujuran untuk menyuarakan bahwa hidup itu seperti pelangi, berbeda warna namun terpancar keindahan, kedamaian, seperti yang kita harapkan bersama.

*Penulis adalah seniman dan pemerhati seni budaya

Berita Terkait:

Dapatkan Berita di Email anda! Berlangganan berita kami dengan memasukkan email anda

Masukkan email anda:

Leave a Reply