Ajakan antidiskriminasi terhadap suku, ras dan agama (Sara) mengemuka di panggung ketoprak, Kamis (16/7) malam, di halaman Stasiun Kota, Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo.Ratusan penonton duduk lesehan di perhelatan yang dimeriahkan Ketoprak Ngampung Balekambang tersebut mendapat pembelajaran penting akan kerukunan bermasyarakat.
Pementasan ketoprak yang mengambil lakon Rukun Agawe Santosa tersebut mengisahkan perselisihan antarkelompok, terutama adanya tekanan dari kelompok mayoritas terhadap kaum minoritas.
Tokoh Joko Giring yang diperankan Gatot Widodo digambarkan sebagai pemuda gagah berani yang tak pantang menyerah untuk memperoleh hak-haknya meskipun dia berasal dari kalangan yang kurang terpadang dari sisi historis. Di Desa Bumi Nusa, Joko Giring sering mendapat perlakukan semena-mena terhadap kelompok Adi Gung pimpinan Sreggono. Ia tidak rela berulang kali mendapatkan ancaman. Joko Giring pun melaporkan perbuatan Srenggono kepada Pak Lurah sebagai orang nomor satu di desa itu. Tapi, tak adanya respons yang serius dari Pak Lurah tidak lantas membuatnya pasrah. Ia kembali mengusahakan seluruh lapisan masyarakat untuk diperlakukan secara adil melalui berbagai cara. Hingga akhirnya, semua pihak diharapkan mampu introspeksi dan menyadari kesalahan mereka dan berjanji menciptakan kehidupan yang rukun agawe santosa.
”Desa Bumi Nusa, menjadi replika dari Indonesia yang multietnis. Pentas ini bisa menjadi pelajaran kerukunan masyarakat agar mau dan bersedia menghargai orang lain yang memiliki latar belakang berbeda dengan dirinya,” jelas sutradara Rukun Agawe Santosa, Dwi Mustanto kepada wartawan, di sela-sela pementasan.
Serukan kepedulian
Dalam pentas ketoprak yang dihelat atas kerja sama Karang Taruna Catur Manunggal Sangkrah dan Ketoprak Ngampung Balekambang tersebut juga menyerukan kepedulian seorang pemimpin terhadap rakyatnya. Sebagai pengayom masyarakat, aparat pemerintah harus memiliki sensitivitas dalam menanggapi keresahan di tingkat bawah.
”Seperti yang tercermin pada sosok Pak Lurah di cerita ini yang akhirnya mengakui kesalahannya, yang semula teledor dan tak mau menggubris keluhan warganya. Dia juga bertanggung jawab untuk kembali merukunkan warga yang bertikai,” lanjut Dwi.
Lurah Sangkrah, Mahendra Nugrahadi menambahkan, acara yang mendapat dukungan dari ChildFund tersebut dihadirkan untuk menggaungkan pesan moral. Sekaligus turut mendekatkan masyarakat terhadap seni ketoprak yang sudah menjadi salah satu bagian seni dan budaya tradisional bangsa ini. -
Oleh : Hanifah Kusumastuti (Solopos, Edisi : Sabtu, 18 Juli 2009 , Hal.12) Foto courtesy Commitment