Buntut Penghentikan Program Nasi Murah GKJ Mahahan
MediaKeberagaman.Com-Solo. Poltabes Surakarta meminta kepada pengurus Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan di Kota Solo untuk menghentikan Program Nasi Murah Peduli Kasih. Program yang telah berjalan hampir 13 tahun lamanya ini ditujukan sebagai wujud rasa toleransi terhadap kaum Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Program ini berawal dari terjadinya krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia pada tahun 1997 yang telah membawa dampak secara langsung khususnya kepada kelompok rentan seperti; tukang becak, pedagang kaki lima (bakul) dan masyarakat pinggiran lainnya. Kondisi ini menggugah perhatian Pendeta GKJ Mahanah (almarhum Bambang Brotosudjali) untuk mengadakan program nasi murah untuk penarik becak setiap minggu pagi dengan harga Rp.100,-. Program nasi murah ini kemudian ditingkatkan menjadi Pelayanan Nasi Murah Peduli Kasih yang dimulai pada awal bulan puasa sampai 1 hari menjelang lebaran pada tahun 1997.
Memasuki puasa Ramadhan 1430 Hijriah, GKJ Manahan kembali melakukan Pelayanan Nasi Murah Peduli Kasih yang dimulai pada hari Sabtu (22/8) dengan melayani sekitar 200 orang. Namun, jumlah pengunjung semakin membengkak menjadi sekitar 300 orang pada hari kedua dan menjadi 500 orang pada hari kelima. Jumlah pengunjung yang terus bertambah ini tidak terlepas dari harga yang ditawarkan oleh pihak GKJ yang sangat murah, dimana masyarakat bisa membeli paket makanan dan minuman seharga Rp.500,-. Dan harga Rp.500,- ini tidak berubah sejak tahun 2002.
Program yang sangat didambakan oleh masyarakat kecil yang ada di sekitar Kota Solo dan sekitarnya tersebut harus dihentikan oleh pihak GKJ Manahan setelah kedatangan Kasiintel Poltabes Solo dengan 2 orang anggotanya yang memperingatkan untuk menghentikan Program Nasi Murah. Alasan yang coba disampaikan untuk menjaga kondusivitas Kota Solo karena ada sejumlah elemen masyarakat yang tidak setuju dengan kegiatan tersebut. Pihak Kepolisan menganggap program ini rawan dan dapat terjadi potensi konflik kerena harus dihentikan.
Informasi lain yang diterima MK.Com menyebutkan bahwa pada hari Kamis (27/8), Pdt. Retno Ratih memperoleh telphone dari Pdt. Anton Karundeng (Ketua BAGKS) yang menyatakan bahwa yang bersangkutan memperoleh telphon dari Sumartono (PMS) yang intinya beliau memperoleh informasi dari H. Mudrick Sangidu terkait dengan keberatan sekelompok orang Islam terhadap kegiatan Nasi Murah GKJ Manahan. Dalam kesempatan terakhir (Jum-at,28/8) Program Nasi Murah Peduli Kasih ini, Pendeta Ratih menyatakan ini adalah perjamuan terakhir. Selanjutnya dengan mimik serius dia mengatakan akan mengupayakan bentuk-bentuk lain untuk mengungkapkan rasa kerukunan beragama dan santunan kemanusiaan bagi warga tidak mampu.
Atas peristiwa tersebut, sejumlah organisasi masyarakat sipil di Kota Solo melakukan pertemuan di kantor Konsorsium untuk membahas situasi yang terjadi sekaligus mengambil langkah-langkah yang perlu dilakukan. Dalam hal ini sejumlah LSM dan Organisasi Masyarakat Sipil berencana mengeluarkan pernyataan sikap sekaligus merencanakan audiensi dengan pihak Poltabes Kota Surakarta pada hari Senin (31/8) mendatang.
”Pihak Poltabes Kota Solo harus memberikan jaminan dan perlindungan terhadap kegiatan sosial yang dilakukan oleh GKJ Manahan karena kegiatan yang dilakukan sangat membantu masyarakat kecil. Masak mau berbuat baik aja kok dilarang”, ungkap beberapa peserta yang hadir dalam pertemuan tersebut. Dan rencananya beberapa OMS di Kota Solo akan bergabung dalam Program Nasi Murah Peduli Kasih yang telah diawali oleh GKJ Manahan sebagai wujud solidaritas sekaligus mewujudkan kehidupan masyarakat Solo yang pluralis. (Dirangkum dari berbagai sumber/Mhr)
Berita terkait dapat ditemukan di Detiknews.com
bukannya karena ada surat dari MUI yang ditujukan ke walikota dan ditembuskan ke Poltabes??
[...] Sejumlah OMS Kota Solo Berencana MelakukanAudiensi ke Poltabes Surakarta [Link] [...]