MediaKeberagaman.Com, Solo. Sejumlah Organisasi Masyarakat Sipil di Kota Solo melakukan pertemuan di Aula GKJ Manahan untuk melakukan evaluasi pelaksanaan Program Nasi Murah Peduli Kasih GKJ Manahan pada hari Senin (12/10) yang lalu. Pertemuan yang digagas oleh sejumlah pihak tersebut, dilakukan untuk melakukan evaluasi atas pelaksanaan kegiatan Nasi Murah Peduli Kasih yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan tahun ini.
Seperti telah diberitakan sebelumnya, program Nasi Murah yang telah berjalan hampir 13 tahun ini ditentang oleh sejumlah pihak yang menganggap program yang diinisiasi oleh GKJ Manahan ini telah mencampuradukkan akidah Umat Islam. Beberapa surat keberatan dilayangkan oleh sejumlah organisasi keagamaan kepada Poltabes Surakarta, sehingga Poltabes meminta pihak GKJ untuk menghentikan kegiatan ini.
Kasus penghentian ini kemudian mengundang sejumlah pihak (LSM di Kota Solo) untuk ikut terlibat melakukan advokasi secara bersama. Setelah melalui proses audiensi dengan pihak Poltabes, pada akhirnya program nasi murah peduli kasih tetap akan jalan dengan beberapa perubahan format kegiatan.
Berangkat dari kasus tersebut, sejumlah OMS di Kota Solo merasa penting untuk tetap melanjutkan program ini dengan beberapa kegiatan kemanusiaan yang lain. ”Kita harus tetap melakukan proses dialog antar iman, agar bisa membawa kerukunan dan perdamaian di Kota ini”, ungkap Pendeta Ratih. Proses dialog antar iman ini juga sangat penting untuk menangkal tindakan-tindakan yang tidak toleran dengan cara-cara kekerasan untuk memaksakan kehendak/ keyakinannya. Dan kebersamaan yang telah dibangun ini mampu menangkal beberapa tindakan intimidasi yang dialami sejumlah pengurus program nasi murah ketika membuka kembali program ini.
Forum yang dihadiri oleh Konsorsium Solo (YKP, SARI), Yaphi, Insan Mas, Commitment dan GKJ Manahan sepakat untuk: (1). Perlu memperluas jaringan yang akan terlibat dalam forum ini, (2). Untuk pelaksanaan program Nasi Murah tahun mendatang melibatkan beberapa elemen sejak awal, (3). Melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan untuk merespon kebutuhan dan persoalan yang ada di masyarakat. (4). Perlu dilakukan pertemuan lanjutan untuk lebih mendetailkan jaringan yang sudah terbangun.
Dalam penutupnya salah seorang peserta yang hadir menyatakan,”Sudah saatnya Kita membangun dan mengembangkan Kota Solo sebagai Kota Budaya yang toleran, bukan Kota yang syarat dengan kekerasan. Perbedaan pandangan dan keyakinan harus dipahami sebagai sebuah rahmat bukan laknat sehingga tidak ada lagi tindakan kekerasan yang mengatasnamakan apapun”. Semoga! (Mhr)
