Sidang Penodaan Agama: Penganut AKI Dituntut Empat Tahun Penjara

Categorized Under: Berita No Commented

MediaKeberagaman.com, Klaten. Pengadilan Negeri Klaten Jawa Tengah menggelar sidang kasus penodaan agama dengan terdakwa Andreas Guntur Wisnu Sarsono (39) penganut ajaran Amanat Keagungan Illahi (AKI), dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum, Eko Wahyu Widiati SH dengan hukuman 4 tahun penjara, Rabu (7/3).

Dalam dakwaan tunggal JPU, Andreas Guntur Wisnu Sarsono, terbukti bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dimuka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, sebagaimana diatur dalam pasal 156a huruf a KUHP.

Guntur diadukan oleh Bony Aswar dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Kabupaten Klaten, dijerat pasal 156a KUHP dengan kasus penodaan agama (delik agama). Kasus penodaan agama berawal pada tanggal 24 Oktober 2011, ormas MMI, Forum Komunikasi Aktifis Masjid (FKAM), bersama Muspika (Camat, Danramil dan Kapolsek), grebeg rumah kontrakan milik Guntur di Girimulyo Rt 05/02 Gergunung, Kecamatan Klaten Utara, Klaten.

Penutupan dilakukan saat AKI tengah menyelenggarakan ritual keagamaan, dirumah kontrakan milik Widodo, yang diikuti sebanyak 23 anggota. Pimpinan AKI Guntur, diperiksa oleh Polres Klaten. Ajaran AKI diangap sesat dan di larang oleh Pemerintah Banten dan Jabar.

Dirumah kontrakan terdakwa terdapat lima (5) poster yang dianggap sebagai sarana pengembangan ajaran AKI, diantaranya ;

1. Poster bertuliskan huruf arab dengan bacaan ”Ya iblisa saetonu fidulumati wanur” yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia ; Kegelapan wahai iblis syetan didalam dan cahaya. Dan ”Wamala ikatihi warosulihi abdahu sirotol mustaqiem” artinya dan para malaikatnya dan pararasulnya hambanya jalan yang lurus.

2. Poster bertuliskan arab kemudian disebelahnay ada firman Allah Siapa AKI – AKI adalah suatu rahmat yang harus disampaikan kepada umatmu di dunia, Syamsoe adalah suatu sinar kasih Allah yang ada didirimu, Allah adalah hidup yang ada dirimu yang tidak bisa diajak bohong. Maksudnya dari kalaimat itu dalam jiwa manusia terdapat rasayang selalu mengajak jujur mengikuti sifat Allah Maha Jujur.

3. Poster berisi slogan yang isinya antara lain ; Manusia/Makluk/Nur, Setan/Iblis/Nur yang berarti menyamakan Allah, manusia, setan dan iblis adalah nur atau cahaya ; bahwa menurut ajaran agama islam jelas salah karena menyamakan Allah, malaikat, syetan, iblis berasal dari nur.

4. Poster bertuliskan Kun Fayakun, yang mana poster tersebut berisi Allah berfirman dengarkanlah oleh dirimu aku sengaja, aku robohkan, rasa hatimu, untuk dirimu mengerti, siapa aku? Akulah yang berkuasa, di dunia ini, akulah yang menjadikan seluruh alam semesta berikut isinya dan makluk makluknya maka bersyukurlah dirimu kepadaku dan sampaikanlah kekuasaanku dan nikmatku yang dirimu telah menerimanya selamatkanlah semua umatmu didunia yang masih kegelapan hatinya diatas kekuasaanku, poster tersebut bukanlah merupakan salah satu ayat atau surat yang ada dalam al-quran juga tidak terdapat pada hadits qudsi.

5. Sebuah poster bertuliskan huruf arab jika dibaca Allah Akbar Laillahaillaullah Allah huakbar dan tulisan huruf latin, Salamun Qoalam Mirobbi Rochim yang mana poster tersebut berisi seolah-olah ayat Al-Quran, padahal yang ditulis dalam poster tersebut bukan merupakan ayatAl-Quran.

Menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eko Wahyu Widiati SH, ajaran AKI berasal dari Moehamad Syamsoe (alm) yang merupakan pendiri AKI. Moehamad Syamsoe (alm) pada suatu saat menghadiri ceramah Maulid Nabi di Masjid Agung Cirebon, lalu almarhum melihat ada sinar dan manusia bersayap kemudian menunjuk Moehamad Syamsoe (alm) sambil mengatakan Hai Moehamad Syamsoe selamatkanlah sesama umatmu didunia dan berisikan tersebut dianggap sebagai Wahyu dari Allah yang turunkan melalui malaikat jibril kepada Moehamad Syamsoe (alm), sehingga seolah-olah menyamakan Moehamad Syamsoe sebagai Nabi penerima wahyu. Dan terdakwa percaya atas anggapan tersebut padahal ajaran tersebut bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dalam ajaran Islam petunjuk Allah dalam bentuk wahyu melalui malaikat jibril telah berakhir pada nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan rasul terakhir. Namun petunjuk Allah dalam bentuk hidayah akan berlangsung sepanjang masa, bisa melalui berbagai cara yang Allah kehendaki.

 

Ketua Majelis hakim yang memimpin sidang diantaranya Didik Wuryanto, dengan didampingi hakim anggota Subchi Eko Putro dan Nurhayati. Panitera Edi Priyana, Penuntut Umum Eko Wahyu Widiati, serta Suwardi SH sebagai penasehat hukum terdakwa.

 

Keterangan Saksi

Mejelis hakim sudah mendengarkan keterangan saksi-saksi diantaranya, Bony Aswar sebagai saksi pelapor. Menurut Bony Aswar, ajaran AKI dilarang oleh Kejati Jawa Barat dan MUI yang isinya kegiatan AKI Moehamad Syamsoe tahun 1979 mengembangkan ajaran kepribadian di Bandung. Kegiatan AKI mencampur ajaran Islam, Hindu, Kong Hu Chu. Kejati melarang ajaran AKI di Jawa Barat, Moehamad Syamsoe (alm) tahun 1984 pindah ke Serang Banten, lalu tahun 1991 menyebarkan ajaran AKI di Subang.

Sementara itu saksi Suranto, sejak tahun 2003 pada saat sakit perut berobat kepada terdakwa, dengan cara saksi pakai baju putih kemudian diberi doa-doa yang harus dihafalkan. Setelah berobat keterdakwa penyakit saksi sembuh, masih berhubungan dan kontak dengan terdakwa. Suranto merasa puas dan ingin menimba ilmu dari terdakwa.

Saksi lain, Agus Romdhoni, pernah berobat ke terdakwa dengan media penyembelihan kambing, doa yang dibacakan terdakwa dibaca dan diletakkan diatas kambing kemudian doa dikubur bersama darah kambing. Ia mengganti ongkos kambing sebesar 1 juta rupiah.

Saksi Murtadho Purnomo dari MUI Klaten, menilai bahwa poster-poster AKI tidak dapat dipahami dan membingungkan, poster tidak berdasar ajaran agama islam dan menyesatkan umat, karena tidak ada dalam hadits.

Menurut saksi Moehamad Syamsu Harun, poster-poster merupakan kalam tulis yaitu kalimat yang didapat ketika sedang melakukan dzikir. Kalimat dalam poster itu, kata Harun, merupakan wahyu dari Allah yang diterima Moehamad Syamsoe (alm).

Saksi Syamsul Bakri, dosen IAIN Solo, mengatakan sesuatu dianggap menyimpang dan sesat apabila menyalahi kaidah-kaidah asal yaitu tidak percaya kepada Al-Quran, meragukan kenabian Muhammad. Menyalahi dalil apabila tidak mengakui Allah itu Esa, menolak puasa Ramadhan, menyalahi hal-hal baku dalam agama. Wahyu terakhir adalah wahyu yang diterima nabi Muhammad, jika ada yang mengaku menerima wahyu dan dianggap sebagai nabi adalah jelas salah dan sesat. Ilham adalah inspirasi atau wangsit.

Sedangkan soal poster-poster, menurut Syamsul Bakri, tulisan dalam poster, membingungkan dan bias menyesatkan jika tidak diberi penjelasan. Tentang AKI, AKI merupakan pemahaman agama yang tidak baik. Tentang kegiatan terdakwa baik pemasangan poster-poster, melakukan dzikir-dzikir, pengobatan dengan menyembelih kambing, bukanlah kegiatan yang dapat menyesatkan atau menodai agama lain di Indonesia.

Terdakwa Andreas Guntur Wisnu Sarsono, dirinya tidak ada niat sedikitpun menodai agama Islam sebagaimana yang dituduhkan jaksa penuntut umum (JPU). ”Saya masih beragama Islam, saya tetap menjunjungtinggi nilai-nilai agama islam. Saya sadar bahwa saya selaku mualaf masih perlu belajar banyak tentang agama Islam, dan saya yakin Allah SWT memberi petunjuk kepada umat-Nya yang saat ini telah difitnah oleh piha-pihak tertentu agar kebaikan yang saya berikan kepada orang lain sirna begitu saja,” papar Guntur. Atas nama pribadi, terdakwa menolak seluruh dakwaan maupun tuntutan JPU, dan terdakwa memohon kepada majelis hakim untuk membebaskan dirinya dari segala tuntutan hukum, dan dipulihkan nama baiknya.

 

Tekanan Publik

Penasehat Hukum Suwardi, SH dalam pledoi bahwa, terdakwa adalah seorang mualaf dari agam nasrani, yang meyakini agam islam sebagai agama terakhir yang dianutnya. Ia meyakini do’a dan dzikir sebagai amalan yang telah dilakukannya dapat membantu masyarakat untuk mengatasi berbagai permasalahan baik fisik maupun psikis. Ia juga tidak pernah membuat poster-poster sebagaimana bukti yang diajukan JPU. Terdakwa tetap meyakini bahwa penerima wahyu terakhir adalah Nabi Muhammad SAW bukan M Samsoe, sebagaiman didakwakan JPU.

Suwardi dalam duplik atas replik JPU, menilai bahwa tuntutan JPU masih berlandaskan pada opini publik. Bahwa keterangan saksi yang secara tegas tidak menunjukkan adanya kalimat perbuatan terdakwa membuat permusuhan kepada aorang lain. Secara tegas juga tidak menunjukkan perbuatan terdakwa telah menodai suatau agama. Namun, kata penasehat hukum, tekanan publik sejak dari proses penyidikan di kepolisian Polres Klaten, yang mengarahkan pandangan publik masih mewarnai proses hukum yang sedang berlangsung di persidangan perkara ini. Sehingga JPU dalam membuat dakwaan maupun tuntutan masih diwarnai oleh pikiran-pikiran publik. (Cecep Choirul Sholeh)

If you enjoyed this post, make sure you subscribe to the feed and get future news delivered to your email!

Leave a Reply

Links:Longchamp Pas Chercheap beats by dreGiuseppe Zanotti HommeCheap Beats by Dre