Mediakeberagaman.Com, Solo. Belakangan ini kosakata sweeping kian populer. Ia memang seringkali menelusup ke dalam syaraf dan mengganggu sistem keseimbangan akal sehat. Ketika sweeping menghunjam dan mempengaruhi system keseimbangan social, maka tindakan-tindakan yang agresif terjadi secara agregat dan dapat menimbulkan korban yang agregatif juga.
Akhirnya sweeping menjadi semacam virus yang melanda semua orang. Sweeping menghilangkan kejernihan akal pikir. Sweeping menimbulkan kekhawatiran yang amat sangat. Sweeping merusak struktur hubungan antara unsur-unsur dalam masyarakat sehingga berpotensi memecah belah bangsa ini.
Minggu 14 Meret 2010 lalu, sekitar pukul 20.00 WIB, sedikitnya 50 orang tak dikenal dengan mengenakan seragam putih-putih, lakukan sweeping di salah satu rumah ibadah di kawasan Mojosongo, dekat tempat terbunuhnya gembong teroris Noordin M Top, beberapa waktu lalu. Sempat ada perlawanan dari warga sekitar, tapi tak berarti. Warga kalah siap dan sigap.
Kemudian pimpinan agama tempat ibadah itu dipaksa membubuhkan tanda tangan diatas kertas bermaterai, yang intinya tidak boleh lagi menggunakan tempat ibadah sebelum ada IMB. Paska sweeping, kini 35 jemaah orang tua dan 25 jemaah remaja, tak lagi beribadah ditempat tersebut.
“Sejak kejadian itu, kami tidak bisa beribadah lagi. Kami mengadu kemana,” papar Ibu Debora saat menjadi peserta diskusi tertutup, di Sekretariat Badan Antar Gereja-Gereja Kota Surakarta (BAGKS) Kamis (25/3).

Salah satu peserta diskusi menceritakan pengalaman tentang kasus yang dialaminya
Kasus serupa juga pernah menimpa Daniel Widi, Kadipiro. Bahkan, umatnya menjalankan ibadah dengan cara mengungsi ke tempat ibadah lain, selama 1,5 tahun. Suprapto dari Banyuanyar, mengeluh didaerahnya tak bisa didirikan tempat ibadah. “Walaupun secara procedural sudah memenuhi syarat. Tapi ijin dari masyarakat sekitar selalu ditolak. Kami butuh fasilitator,” kata Prapto.
Sementara itu, pengalaman salah satu tokoh agama (Ryp), awal tahun 2000, melayani tiga tempat ibadah di Laweyan, Solo. Makamhaji, Sukoharjo dan Baturan, Karanganyar. Ia bukan hanya mendapat sweeping, terror, ancam, tapi juga mau dibunuh. Di atas telinga kanannya, masih membekas luka benda tajam.
Mengamati berbagai fenomena konflik dan sweeping umat beragama, dapat ditemukan sedikitnya dua titik pemicu permasalahan. Pertama, menyangkut penghampiran teologi terhadap ajaran dan nilai-nilai agama. Agama menjadi dogmasistis, sehingga muncul gerakan fundamentalis dan puriotanisme. Karena kekecewaan yang terakumulasi, kaum puritan dapat menjelma menjadi kaum fundamentalis dengan fanatisme keagamaan yang relative sempit. Ketertutupan mereka terhadap dialog-dialog sesuai konteks kehidupan masa sekarang akan membuat situasi bagaikan “bara dalam sekam”.
Penyebab kedua, diseretnya agama secara paksa untuk memasuki wilayah konflik kepentingan pemeluknya. Yang paling memprihatinkan, kepentingan tersebut acapkali bersifat parsial yang hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Menurut pakar, agama merupakan alat legitimasi yang paling efektif. Banyak pemeluk agama yang berlindung di balik jubah agamanya untuk memperjuangkan kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik. (ccp).
Download: Kronologi Kasus Sweeping GPPS Mojosongo
Untuk membuka file silahkan request password disini