MediaKebaragaman.Com-Solo. Tindakan masyarakat dalam berbagai bentuk kekerasan bernuansa ”agama” di wilayah Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, cukup tinggi, kata Sekretaris Forum Kemanusiaan dan Persaudaraan Indonesia (FKPI), Ade Irman Susanto, di Solo, Kamis (20/5).
Pernyataan Ade itu, disampaikan saat menjadi pembicara dalam seminar “Membangun Mekanisme Ketahanan Masyarakat Multikultur Terhadap Konflik Sosial,” tampil pembicara lain, ketua Kesbangpolinmas Kota Solo Suharso dan Sri Raharjo Handri Sukarno perwakilan Forum Komunikasi Warga Joyosuran (FKWJ).
Lebih lanjut Ade menjelaskan, kekerasan di Joyosuran diantaranya ; Penggrebegan rumah saudara Yuli Rt 06, Rw V oleh Geng Gondez. Bentrok fisik antara kelompok sipil berkedok agama dengan kelompok Kipli, atau peristiwa Kusumadilagan berdarah, atau lebih dikenal kasus Kipli, pada tanggal 18 Maret 2008, di Jl. Kahar Muzakhir Kusumadilagan. Penggrebegan rumah Anggoro, Rt 03/Rw VI oleh kelompok sipil berkedok agama. Penggrebegan kelompok sipil berkedok agama terhadap rumah Totok, Rt 03/ Rw III. Pengrudugan kelompok sipil berkedok agama terhadap ketua Rt 01/ Rw VII.
Selain itu, ada juga beberapa kejadian intoleransi diantaranya ; pelarangan kegiatan ”tradisi” Yasinan/Tahlilan, di Rw X dan Rw XI. Pelarangan penggunaan rumah untuk kegiatan keagamaan di Rw III sebanyak tiga kali. Hal itu terjadi di Rw III di rumah bapak Sri hardono, Ibu Suprapto dan bapak Widodo.
Solusi yang ditawarkan, masyarakat Joyosuran harus belajar, kajian pemetaan resiko konflik, sehingga mamapu mengindentifikasi ancaman –ancaman yang ada. Kedua, melakukan indentifikasi kerentanan dan lokasinya. Ketiga, indentifikasi kapasitas yang berhubungan dengan ancaman dan kerentanan masyarakat.
”Masyarakat harus belajar mandiri untuk mengatasi konflik dan tidak selalu harus menggantungkan kepada pihak lain termasuk aparat, sehingga mereka akan mampu melakukan pemetaan terhadap titik– titik kerawanan,” kata Ade.
Ketua Kesbangpolinmas Kota Solo, Suharso, mengatakan saat ini butuh melakukan propaganda positif, membangun brand bahwa Kota Solo adalah kota damai dan bukan kota sumbu pendek. (ccp/jld).
Download Makalah Membangun Mekanisme Ketahanan masyarakat multikultur terhadap konflik sosial oleh Sri Raharjo Handri Sukarno