Warga Joyosuran Pelatihan Mengelola Konflik dan Kerukunan

Categorized Under: Kegiatan No Commented

MediaKeberagaman.Com, Solo. Warga Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon Solo, ikuti Workshop “Membangun Mekanisme Pertahanan “ yang dilaksanakan oleh FKPI (Forum Kerukunan dan Persaudaraan Indonesia) pada Minggu (29/11/09), menghadirkan Drs. H.M Dian Nafi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, Solo, sebagai fasilitator. Acara tersebut dihadiri 22 orang peserta membahas tentang managemen konflik.

Pemahaman konflik yang dipahami oleh masyarakat dibedah agar peserta paham makna konflik sesungguhnya, pemetaan tentang konflik, asal mula konflik muncul, factor-faktor yang memunculkan konflik, actor-actor konflik dan sebagainya. Joyosuran adalah wilayah pinggiran kota Solo sebelah timur yang sering muncul konflik-konflik terselubung yang dipicu oleh berbagai persoalan mulai soal miras, perjudian dan agama. Juga Joyosuran sering terjadi gesekan social antara kelompok Islam keras dengan masyarakat.

Workshop yang dilaksanakan di gedung YBKS (Yayasan Bina Kesejahteraan Sosial) Semanggi kali ini merupakan kelanjutan workshop pertama pada tanggal 21-22/11/09 di wisma INRI, Tawangmangu. Pada workshop di YBKS, Dian Nafi mencoba membedah antara beda konflik dengan kekerasan. Menurut mantan Ketua NU Solo, konflik itu selalu melekat dalam hidup bermasyarakat entah bersumber dari struktur, kepentingan, informasi, nilai-nilai, relasi, ataupun sumberdaya. Bagaimana konflik demikian dikelola? Coba lihat mulai dari relasi dengan cara belajar bersama supaya saling memahami nilai-nilai yang berlaku baik di kelompoknya maupun kelompok lainnya. Kemudian kita melakukan tindakan bersama sehingga alokasi sumberdaya bisa lebih adil. Transformasi konflik tidak boleh menyingkirkan salah satu pihak, masing-masing harus menang win-win solution.

Sedangkan kalau kekerasan tidak harus ada hubungan. Misalnya, seorang ibu yang dicopet oleh orang yang tidak dikenal itu adalah korban kekerasan karena hak milik si ibu dirampas oleh pencopet walaupun tidak ada konflik. Perseteruan antara para pemuda pemabuk sembarangan dengan anggota laskar islam yang ingin tidak ada minum-minuman keras itu adalah konflik. Kalau laskar itu merazia dan menganiaya kemudian para pemuda pemabuk juga membalas dengan penganiayaan yang sama itu konflik berkekerasan.

Sedangkan dalam pemetaan masalah tentang Joyosuran itu kenapa rentan atau rawan konflik bahkan kekerasan muncul, beberapa analisis diantaranya, apakah di sana terdapat arus manusia tinggi? Arus modal tinggi? Arus informasi timpang? Arus kepentingan tinggi? Arus pertumbuhan tinggi? Kaya sumberdaya alam? Daerah perlintasan? Daerah Penyangga? Tata kuasa, tata kelola, dan tata guna tidak adil?

Dalam workshop kedua ini peserta sangat antusias terhadap materi yang sampaikan, peserta workshop mayoritas tokoh di lingkungan joyosuran, dari PKK, RT, RW, FKPM, LPMK dan sebagainya memang betul-betul paham kondisi social ekonomi di lingkungan joyosuran. Menurut salah satu peserta, Joyosuran itu padat penduduknya dan pastinya arus manusia tinggi, arus modal juga tinggi karena di Joyosuran menjadi sentra jual-beli logam bekas, besi, arus informasi memang timpang karena hanya dimiliki segelintir orang yang punya kuasa dan sumberdaya. Sedangkan arus kepentingan itu tinggi karena Joyosuran memiliki posisi yang strategis sehingga menjadi daerah perlintasan dan perkembangannya sangat cepat alias arus pertumbuhan tinggi.

Dari hasil workshop tentang kekerasan dan konflik tersebut, harapannya dapat menjadi modal para tokoh masyarakat peserta worksop untuk lebih mampu mengelola konflik di wilayah Joyosuran menjadi kerukunan antar kelompok disana. Sehingga tidak ada ketakutan lagi di masyarakat tentang adanya sweping lagi baik untuk minuman keras, tahlilan, perjudian dan sebagainya. (JLD)

If you enjoyed this post, make sure you subscribe to the feed and get future news delivered to your email!

Leave a Reply