MediaKeberagaman.Com-Solo. Puluhan warga Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta yang berasal dari beberapa Kelurahan seperti; Joyosuran, Gabudan, Semanggi dll belajar Transformasi Konflik. Pelatihan diikuti oleh lebih dari 30 orang yang berasal dari beberapa perwakilan seperti; PKK, Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM), Karangtaruna dan beberapa unsur/ tokoh masyarakat yang ada di Pasar Kliwon.
Pelatihan ini difasilitasi oleh Forum Kemanusiaan dan Persaudaraan Indonesia (FKPI) – Solo mulai tanggal 21 – 22 November di Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. Selama dua hari tersebut, masyarakat mencoba melakukan pemetaan kasus – kasus yang terjadi di lingkungan mereka dan mencoba melakukan solusi secara bersama – sama.
Seperti diketahui bersama, wilayah Pasar Kliwon merupakan satu wilayah yang cukup rentang terhadap konflik. Beberapa kasus kekerasan berupa intimidasi, teror dengan menggunakan kedok agama muncul di wilayah ini.
Setidaknya hal ini bisa dilihat dari pemetaan yang dilakukan oleh peserta pada pelatihan hari pertama yang difasilitasi oleh Bpk. Suharso, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Limas). Beberapa permasalahan yang dirumuskan masyarakat antara lain: (a).Adanya kelompok masyarakat/ organisasi yang menggunakan kedok agama dan melakukan beberapa tindakan intimidasi, teror dll, (b). Adanya sweaping terhadap masyarakat yang diduga sedang minum-minum dengan cara yang tidak sopan, (c). Konvoi kendaraan yang dilakukan oleh kelompok tertentu pada setiap malam minggu, (d). Pelarangan terhadap beberapa kegiatan warga seperti; acara tahlilan, khitanan, pernikahan dll dan (f). Penutupan tempat kegiatan keagamaan secara paksa.
Dari permasalahan yang muncul, masyarakat mencoba mengidentifikasi sumber/ penyebab dari permasalahan yang ada antara lain: (a). Pemahaman keagamaan yang sempit. (b). Tidak ada ketegasan dari pihak aparat yang berwenang untuk mengendalikan kelompok-kelompok yang sering melakukan kekerasan, intimidasi dll. Dari penyebab tersebut, masyarakat memberikan rekomendasi untuk penyelesaian permasalahan yang ada antara lain: (a). Membangun komunikasi antar berbagai pihak dan (b). Mengundang aparat terkait, pemerintah kota untuk menyelesaikan kasus yang dialami warga.
Transformasi Konflik
Pelatihan hari ke-2 difasilitasi oleh K.H. Dian Nafi’, pengasuh Pondok Pesantren Al Muayad Windan sekaligus pegiat Amwin Institute. Kyai yang telah memiliki segudang pengalaman melakukan rekonsiliasi konflik yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia ini, mencoba berbagi pengalaman kepada masyarakat Pasar Kliwon.
Dalam pengantarnya, Kyai Dian mencoba memaparkan latarbelakang konflik yang bernuansa etnik maupun agama di beberapa wilayah yang terkait dengan sumberdaya yang terkandung oleh wilayah tersebut. Dan kekayaan sumberdaya alam inilah yang sering menjadi pemicu terjadinya konflik antar warga yang sering tidak diketahui asal muasalnya. Pertanyaannya, kalau di wilayah Pasar Kliwon sering terjadi konflik, ada sumberdaya alam seperti apa dibawah Pasar Kliwon?
Dalam sesi ini, para peserta pelatihan diminta kembali untuk melakukan pemetaan intensitas konflik yang terjadi di Pasar Kliwon yang meliputi; Latensi (tersembunyi), Eskalasi (meningkat) dan Terjebak (entrapment). Dalam tahap latensi peserta diminta untuk mendata potensi-potensi konflik yang ada dan muncul di wilayah Pasar Kliwon yang kemudian diikuti oleh eskalasi yang berupa konflik yang sudah muncul secara terbuka. Peserta juga diminta untuk mendata tahapan terjebak, yaitu satu tahap dimana kasus-kasus kekerasan/ konflik yang terjadi di Pasar Kliwon.
Setelah proses perumusan selesai, Kyai Dian mencoba memberikan gambaran melalui berbagai pengalaman yang dimiliki untuk menjelaskan perkembangan pendekatan pemberdayaan untuk rekonsilisasi. Dalam sesi ini, Kyai Dian menjelaskan tiga perkembangan untuk melakukan rekonsilisasi yaitu; tahap conflic resolutin (penyelesaian konflik), conflict management (pengelolaan konflik) dan conflict transformation (transformasi konflik). Disamping itu, tehnik-tehnik penyelesaian konflik juga diajarkan pada sesi ini.
Menjelang sesi penutupan, salah seorang peserta mencoba mempertanyakan kepada panitia (FKPI) tentang tindaklanjut dari pelatihan ini. “Apakah hasil pelatihan ini hanya akan berhenti di forum ini? Bisa tidak FKPI atau teman-teman LSM yang lain memfasilitasi masyarakat untuk bertemu Pemerintah? Pertanyaan ini muncul karena warga Pasar Kliwon sampai sekarang ini masih terus mengalami intimidasi dan teror oleh sejumlah kelompok yang mengatasnamakan agama tertentu yang membuat warga tidak nyaman. “Dan pemerintah memang harus bertanggungjawab terhadap hal ini, karena Kami warga negara Indonesia”, ujarnya. (Mhr)