Nama wayang suket, mungkin belum terkenal seperti wayang kulit, wayang orang, maupun wayang golek, namun fenomenanya luar biasa, seolah mengalahkan wayang-wayang ’pakem’ yang terlebih dahulu ’lahir.’ Slamet Gundono, adalah ayah sekaligus ibu yang melahirkan ide wayang suket. Pria bertubuh tambun dengan bobot sekitar 350 kg, kelahiran Slawi, Tegal 19 Juni 1966 ini menemukan ide pementasan wayang suket sejak tahun 1997 lalu.
Memang Slamet Gundono belum setenar Ki Manteb Sudarsono, Ki Anom Suroto, maupun Asep Sunarya, namun karya-karyanya sangat akrab di telinga para pencita seni. Tak berlebihan jika, wayang suket indentik dengan Slamet Gundono. Menurut jebolan STSI (sekarang ISI) Solo tahun 1999 ini, suket sebagai indentitas itu penting. Suket mempunyai daya tahan yang luar biasa, ia tumbuh di mana-mana. Dicangkul, dipotong, suket akan tumbuh kembali. Makna hidup yang tidak cengeng.
Pementasan wayang suket banyak simpati penonton. Melalui wayang suket, ia mampu menghidupkan suasana dan berinteraksi dengan penontonnya. Percakapan antara para tokoh-nyapun ada yang dimainkan secara langsung, tidak melalui penokohan wayang yang berada dalam genggaman Slamet Gundono. Sehingga keseluruhan pementasan wayang suket, lebih bernuansa teatrikal ketimbang murni wayang.
Malam Minggu kemarin dipelataran Pasar Windu Jenar atau populer Pasar Triwindu, ratusan masyarakat Kota Batik, tua, muda dan tak sedikit anak-anak seakan-akan ’dihipnotis’ Slamet Gundono, S.Kar. Mereka tumplek blek membanjiri pementasan wayang suket, dengan lakon Bale Sigala-Gala atau Bom Rumah (1/8). Pementasan Wayang Suket ini merupakan bentuk kerjasama antara Slamet Gundono dengan Child Fund Indonesia-RESPECT Program, sebuah organisasi nirlaba yang concent pada isu pluralisme/ keberagaman yang saat ini memiliki program di Kota Solo.
Diceritakan, Duryudana dan Sengkuni sebagai penguasa bangsa, melakukan doktrinasi kepada seluruh warga, menancapkan faham Kurawaisme sebagai satu-satunya idiologi kebenaran, yang lain adalah sesat dan harus dibasmi.
Usaha Duryudana dan Sengkuni untuk menguasai seluruh negara, terutama Ngamarta terbentur oleh sekelompok orang Pandawa Lima, yang menyebarkan nilai kasih saya, cinta, tolong menolong, kemerdekaan hidup, keberagaman dan kedamaian.
Kemudian Duryudana dan Sengkuni, berencana menghancurkan tradisi budaya yang dipunyai Pandawa Lima. Sasaran utama meraka adalah membubarkan ritual pengobatan herbal/ tradisional yang dilakukan oleh Sadewa, pakar tanaman obat. Apakah Duryudana berhasil? Ternyata tidak. Semua usaha Duryudana terhadang tembok baja.
Siasat licik dipersiapkan. Dibangunlah sebuah rumah yang terbuat dari bahan mudah terbakar dan diantara sela-sela pesta jamuan diam-diam Sengkuni memasukkan bahan peledak berjenis high explosive.
Sebuah pesta syukuran diadakan, mendorong Pandawa Lima masuk perangkap yang sudah disiapkan terlebih dahulu. Ditengah-tengah hiruk pikuk pesta jamuan makan, tatkala Pandawa Lima lengah, tak lama kemudian BOM meledak, dalam sekejap api mengepung dan meluluh lantahkan bangunan rumah.
Ternyata malaikat maut belum singgah di Pandawa Lima, entah datangnya dari mana muncullah musang putih yang menuntun Pandawa Lima masuk keperut bumi. Akhirnya selamatlah Pandawa Lima.
Bagian terakhir, dalang yang pada tahun 2005 lalu mendapatkan penghargaan ”Prince Claus Awards dari Prince Claus Fund, dari pemerintah Belanda ini menutup dengan pesan moral bahwa hidup harus menghargai perbedaan, keberagaman, dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian. Soalnya, semua elemen bangsa ini memiliki potensi radikalisme, apakah atas nama agama, politik, ekonomi , budaya dan lain sebagainya. Tetapi apapun alasannya kekerasan adalah pelanggaran Hak Azasi Manusia. (cecep-commitment)